Kamis, 25 Maret 2010

Nama : Torine Rambu Baba Ama
NIM : 0601010066
Mata Kuliah : pengkajian bahasa daerah NTT
1. Deskripsi sebuah masalah
Pengembangan dan pembinaan bahasa Indonesia dan bahasa daerah secarah terus menerus dilakukan oleh pemerintah bkerja sama dengn pusat pengembangan bahasa. Mahasiswa jurusan bahas juga terus melakukan penelitian tentang bahsa itu sendiri. Pembinaan dan dan pengembangan bahasa daerah tidak saja bertujuan untuk menjaga kelestarian bahas daerah tapi juga bermanfaat untuk pembinaan , pengembangan dan pembakuan bahasa Indonesia. Pengembangan dan pembinaan bahasa nasional toidak terlepas dari pengembangan bahsa daerah, karena mempunyai hubungan timbale balik.
Bahasa Sumba dialek Anakalang adalah salah satu bahsa daerah di Indonesia yang berkembang di daerah Anakalang. Bahasa Sumba dialek Anakalangdituturkan oleh masyarakat sebagai alat komonikasi , media satra lisan dalam upacara adapt seperti upacara perkawinan, kematian, perta raya dan lain-lain.
Seperti bahasa bahasa daerah lainnya yang mengalami proses morfologis, Bahasa Sumba dialek Anakalang juga mengalami proses morfologis. Seperti afiksasi contoh dalam bahasa Indonesia, makan +an = makanan dalam Bahasa Sumba dialek Anakalang juga terdapat peristiwa bahasa seperti ini misalnya pa+ kedu = pakedu ;yapa+ya=yapaya ; pa+midar+ya= pamidarya dari kata dasar kedu, yapa dan midar. Kedu = curi, pakedu = curian, yapa = tangkap yapaya= menangkap, midar = rata= pamidarya= meratakan. Menurut Verhar 2000 bahwa proses morfologis terdapat dalam semua bahasa di dunia. Afiksasi adalah proses morfologis yang mengubah leksem menjadi kata kompleks. Proses morfologis dengan penggabungan kata mengacu terbentuknya kata kompleks yang dapat direalisasikan dalam tuturan. Yang menjadi bentuk terjadinya afiksasi yakni afiks yang merupakan bentuk terikat yang bila ditambahkan pada bentuk lain akan mengubah makna gramatikal (Kridalaksana 2002:2).
Syarat-syarat kata untuk dapat menjadi afiksasi, antara lain: Kata itu harus dapat ditempatkan pada bentuk-bentuk lain untuk membentuk kata atau pokok kata baru.



2. Gejalah yang muncul.
Gejala yang muncul bahasa dalam Bahasa Sumba dialek Anakalang juga terdapat proses perubahasan kata dasar yang mempunyai awalan, akhiran , dan gabungan afiks.
3. Asumsi
Asumsi saya bahwa dalam Bahasa Sumba dialek Anakalang juga terdapat [roses morfologis yaitu afiksasi

4. Kerangka Masalah

Berdasarkan asumsi dan gejalah di atas maka kerangkah masalah penelitian sebagai berikut:
a. Afiks-afiks apa sajakah yang terdapat dalam bahasa Sumba dialek Anakalang
b. Bagaimanakah fungsi afiks bahasa Sumba dialek Anakalang?
c. Bagaimanakah makna gramatikal afiks bahasa Sumba dialek Anakalang?

5. Tawaran Judul
Afiksasi Bahasa Sumba Dialek Anakalang


Jumad, 27 maret 2010
Nama : Torine Rambu Baba Ama
NIM : 0601010066
Mata Kuliah : pengkajian bahasa daerah NTT
1. Deskripsi sebuah masalah
Pengembangan dan pembinaan bahasa Indonesia dan bahasa daerah secarah terus menerus dilakukan oleh pemerintah bkerja sama dengn pusat pengembangan bahasa. Mahasiswa jurusan bahas juga terus melakukan penelitian tentang bahsa itu sendiri. Pembinaan dan dan pengembangan bahasa daerah tidak saja bertujuan untuk menjaga kelestarian bahas daerah tapi juga bermanfaat untuk pembinaan , pengembangan dan pembakuan bahasa Indonesia. Pengembangan dan pembinaan bahasa nasional toidak terlepas dari pengembangan bahsa daerah, karena mempunyai hubungan timbale balik.
Bahasa Sumba dialek Anakalang adalah salah satu bahsa daerah di Indonesia yang berkembang di daerah Anakalang. Bahasa Sumba dialek Anakalangdituturkan oleh masyarakat sebagai alat komonikasi , media satra lisan dalam upacara adapt seperti upacara perkawinan, kematian, perta raya dan lain-lain.
Seperti bahasa bahasa daerah lainnya yang mengalami proses morfologis, Bahasa Sumba dialek Anakalang juga mengalami proses morfologis. Seperti afiksasi contoh dalam bahasa Indonesia, makan +an = makanan dalam Bahasa Sumba dialek Anakalang juga terdapat peristiwa bahasa seperti ini misalnya pa+ kedu = pakedu ;yapa+ya=yapaya ; pa+midar+ya= pamidarya dari kata dasar kedu, yapa dan midar. Kedu = curi, pakedu = curian, yapa = tangkap yapaya= menangkap, midar = rata= pamidarya= meratakan. Menurut Verhar 2000 bahwa proses morfologis terdapat dalam semua bahasa di dunia. Afiksasi adalah proses morfologis yang mengubah leksem menjadi kata kompleks. Proses morfologis dengan penggabungan kata mengacu terbentuknya kata kompleks yang dapat direalisasikan dalam tuturan. Yang menjadi bentuk terjadinya afiksasi yakni afiks yang merupakan bentuk terikat yang bila ditambahkan pada bentuk lain akan mengubah makna gramatikal (Kridalaksana 2002:2).
Syarat-syarat kata untuk dapat menjadi afiksasi, antara lain: Kata itu harus dapat ditempatkan pada bentuk-bentuk lain untuk membentuk kata atau pokok kata baru.



2. Gejalah yang muncul.
Gejala yang muncul bahasa dalam Bahasa Sumba dialek Anakalang juga terdapat proses perubahasan kata dasar yang mempunyai awalan, akhiran , dan gabungan afiks.
3. Asumsi
Asumsi saya bahwa dalam Bahasa Sumba dialek Anakalang juga terdapat [roses morfologis yaitu afiksasi

4. Kerangka Masalah

Berdasarkan asumsi dan gejalah di atas maka kerangkah masalah penelitian sebagai berikut:
a. Afiks-afiks apa sajakah yang terdapat dalam bahasa Sumba dialek Anakalang
b. Bagaimanakah fungsi afiks bahasa Sumba dialek Anakalang?
c. Bagaimanakah makna gramatikal afiks bahasa Sumba dialek Anakalang?

5. Tawaran Judul
Afiksasi Bahasa Sumba Dialek Anakalang


Jumad, 27 maret 2010

Senin, 22 Maret 2010

afiksasi bahasa sumba dialek anakalang

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Bangsa Indonesia adalah bangsa yang terdiri atas beragam etnis dan setiap etnis mempunyai kebudayaan masing-masing termasuk bahasanya. Setiap bahasa mempunyai tiga sistem yaitu sistem fonologi yang berbicara tentang sistem bunyi , sistem morfologi yang berbicara tentang struktur kata dan sistem sintaksis yang berbicara tentang stuktur kalimat. Oleh karena bahasa memiliki sistem sendiri maka analisis stuktur bahasa pada hakikatnya merupakan sesuatu hal yang penting untuk menemukan kebenaran struktur kebahasaan menurut sistem bahasa itu sendiri.
Bahasa adalah rekaman budaya penutur yang patut dilestarikan. Sebagai bahasa nasional bahasa Indonesia merupakan lambang kebangsaan dan lambang identitas. Bahasa Indonesia harus mampu mencerminkan nilai sosial budaya yang mendasari rasa kebangsaan itu. Demikian pun bahasa daerah, harus bisa menunjukkan nilai sosial budaya. Hal ini akan terjadi jika penutur bahasa daerah mampu menjaga eksistensi bahasa daerahnya.
Nusa Tenggara Timur adalah salah satu provinsi di Indonesia yang memiliki banyak pulau dengan bahasa daerahnya masing masing seperti pulau Timor dengan bahasa Dawan, Tetun , dan lain-lain pualau Sumba dengan bahasa Sumba.
Menurut Putu Putra (2009) dalam WWW. Umbud Uin-Malang. Bahwa Di Pulau Sumba hanya terdapat satu bahasa, yakni bahasa Sumba dengan beberapa dialek berdasarkan segmentasi dialektal. Putu menerangkan keanekaragaman dialek dan subdialek berdasarkan penelusuran bentuk turunan dari bentuk asalnya. Perbedaan bentuk linguistik yang diperoleh dengan menggunakan 936 glos meliputi: 727 glos yang berian-beriannya berbeda secara leksikal; 173 glos yang berian-beriannya berbeda secara fonologis; 21 glos yang berian-beriannya berbeda secara morfologis, dan 15 glos yang berian-beriannya tidak berbeda. Di dalam 727 glos yang beriannya berbeda secara leksikal terdapat glos-glos yang menunjukkan perbedaan secara fonologis dan morfologis, tetapi tetap dimasukkan dalam berian-berian yang berbeda secara leksikal karena satu atau lebih beriannya itu berbeda secara leksikal dan hasil pendeskripsian variasi Bahasa Sumba menunjukkan bahwa terdapat bunyi vokal dan bunyi konsonan yang bervariasi teratur dan bervariasi sporadis beserta daerah sebarannya di 20 titik pengamatan. Penerapan metode pengelompokan bahasa, yaitu penggunaan berkas isoglos, penghitungan dialektometri (leksikal dan fonologis), penghitungan gabungan dialektometri leksikal dan fonologis, serta penghitungan permutasi. Temuan tersebut menghasilkan temuan pengelompokan dialek dan subdialek BS di Pulau Sumba. Hasil temuan itu menunjukkan bahwa di Pulau Sumba terdapat satu bahasa dengan lima dialeknya, yakni (1) dialek Mauralewa-Kambera, (2) dialek Wano Tana /Anakalang (Wanokaka dan Katiku Tana / Anakalang ), (3) dialek Waijewa-Louli, (4) dialek Kodi, dan (5) dialek Lamboya. Nama-nama dialek itu berkaitan dengan nama kelompok masyarakat yang membentuk kerajaan-kerajaan di masa lalu, baik pada masyarakat Sumba Timur maupun Sumba Barat.
Bahasa Sumba dialek Anakalang potensial dengan masalah afiksasi, atau yang sering kita katakan proses pengimbuhan. Proses pengimbuhan atau afiksasi menyangkut dengan bentuk, fungsi dan makna. Oleh karena bahasa Anakalang potensial dengan afiks maka penulis tertarik untuk meneliti afiksasi bahasa Sumba dialek Anakalang, yang mana penutur bahasa Sumba dialek Anakalang hanya mengetahui bahasa Sumba dialek Anakalang dan menggunakannya tetapi jarang mengetahui bahwa bahasa Sumba dialek Anakalang potensial dengan proses pengimbuhan. Penutur bahasa Sumba dialek Anakalang hanya tahu berbicara bahasa Sumba dialek Anakalang tanpa mengetahui bentuk dasar kata yang dibicarakan atau perluasan dari bentuk dasar itu apa. Penulis tertarik dengan masalah ini, dan penulis memilih judul Afiksasi Bahasa Sumba Dialek Anakalang, karena masalah afiksasi sangat potensial dalam bahasa Sumba dialek Anakalang.
Dalam bahasa Indonesia memiliki berbagai macam jenis afiks, demikian juga dalam bahasa Anakalang dialek Anakalang juga memiliki berbagai macam jenis afiks antara lain:
1. Prefiks yaitu afiks yang diletakkan di depan bentuk dasar, Prefiks bahasa Anakalang yaitu : Ka,- Da?,- Ma,- Na,-pa,-
Contoh :
pamati: ’membunuh’,dari kata dasar mati yang berarti ’mati’ atau ’meninggal’.
BSDA : Namabokul pamatineya na ana rara
Transliberasi :Orang tua(laki-laki) bunuh ana bayi
Terjemahan :Orang tua membunuh seorang bayi
2. Sufiks yaitu afiks yang diletakkan di belakang bentuk dasar, Sufiks bahasa Anakalang yaitu : -ng,-de?,-ha,-da’,-ya,-me.
Contoh ;
Panaung : ’nasihat’,dari kata dasar panau yang berarti ’memberikan nasihat’.

BSDA : Ranguya nalokamu bana panau, abi lebadiya napanaungna lokamu ta keri loku
Transliberasi: Dengarkan pamanmu ketika memberikan nasihat, jangan membuang nasihat pamanmu di kali yang keruh
Terjemahan : Dengarkan nasihat pamanmu, jangan biarkan nasihat pamanmu menjadi sia-sia.
3. Konfiks yaitu afiks yang terdiri dari dua unsur yaitu satu di depan bentuk dasar dan satunya lagi di belakang bentuk dasar, Konfiks bahasa Anakalang yaitu : Pa,-ng Pa,-ha Ma,-ha Ma,-ya Pa,-de?’
Contoh :
Painungha : ’minuman’, dari kata dasar inung yang berarti ’minum’.
BSDA : Jeka beyaha bami tauha da painung daku lali pemajaka atu, dapa pedangamiki lakeda
Transliberasi :Entah dimana kalian menaru minuman –minuman ,saya tidak terlalu tahu itu, saya tidak mengerti anak-anak.
Terjemahan : dimana kallian menyimpan minuman itu, saya tidak tahu dan saya tidak mengerti perilaku kalian anak-anak.
Jabaran data bahasa Sumba dialek Anakalang yang merupakan jenis afiks bahasa Sumba dialek Anakalang di atas memperlihatkan adanya bentuk , fungsi dan makna afiks bahasa Anakalang, sehingga memperkuat keinginan peneliti untuk mengangkat masalah afiksasi bahasa Sumba dialek Anakalang.

1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas maka masalah penelitian sebagai berikut:
a. Afiks-afiks apa sajakah yang terdapat dalam bahasa Sumba dialek Anakalang
b. Bagaimanakah fungsi afiks bahasa Sumba dialek Anakalang?
c. Bagaimanakah makna gramatikal afiks bahasa Sumba dialek Anakalang?

1.3 Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian ini adalah sebagai berikut:
a. Mendeskripsikan jenis-jenis afiks bahasa Sumba dialek Anakalang.
b. Mendeskripsikan fungsi afiks bahasa Sumba dialek Anakalang.
c. Mendeskripsikan makna gramatikal afiks bahasa Sumba dialek Anakalang.
1.4 Manfaat Penelitian
1.4.1 Manfaat Teoretis
Hasil penilitian ini diharapkan dapat bermanfaat bagi pengembangan ilmu linguistik khususnya linguistik mikro dan telaah morfologi.
1.4.2 Manfaat Praktis
a. Memperluas wawasan penulis tentang afiksasi, dan kajian morfologi.
b. Sebagai sumber informasi bagi masyarakat terlebih masyarakat penutur bahasa Sumba dialek Anakalang
c. Melestarikan bahasa Sumba dialek Anakalang sebagai aset kebudayaan.
d. Sebagai bahan referensi bagi para peneliti yang ingin meneliti lebih lanjut proses morfologis bahasa Sumba dialek Anakalang dan yang menaruh minat terhadap ilmu kebahasaan khususnya kajian morfologi dalam hal ini tentang afiksasi.
e. Dalam bidang pendidikan, khususnya pendidikan di daerah Sumba Tengah lebih tepatnya Anakalang ketika mempelajari imbuhan atau afiks bahasa Indonesia guru dapat memberitahukan kepada siswa bahwa terdapat juga afiks atau imbuhan bahasa Sumba dialek Anakalang sehingga proses pembelajaran bahasa Indonesia lebih menyenangkan karena siswa diajak mengenal apa yang dimilikinya yakni kekayaan bahasa daerahnya.
f. Diharapkan dalam pembelajaran siswa dapat menemukan bentuk, fungsi dan makna bahasa Indonesia dan menemukan bentuk , fungsi, dan makna bahasa Sumba dialek Anakalang untuk menguji daya analisis siswa dalam membandingkan bahasa Indonesia dan bahasa Daerah(bahasa Anakalang).
TORINE RAMBU BABA AMA.
NIM : 0601010066
PENGKAJIAN BAHASA DAERAH NTT.













BAB II
KAJIAN PUSTAKA, KONSEP DASAR DAN LANDASAN TEORI
2.1 Kajian Pustaka
Penelitian tentang bahasa Sumba dialek Anakalang masih sedikit dibicarakan. Di antaranya penelitian tentang Verba bahasa anakalang dibicarakan oleh Trovina Rambu P. Walangara, pada tahun 1999, di Anakalang dengan judul Verba Bahasa Anakalang, di mana masalah yang diangkat adalah kategori kelas kata dalam bahasa Anakalang yakni verba bahasa Anakalang atau dengan sebutan lain kata kerja bahasa Anakalang. Penelitian tersebut masih sangat sederhana karena hanya meneliti tentang verba bahasa Anakalang.
Bahasa Anakalang juga pernah diteliti oleh Rambu Badja Oru, di Anakalang dengan judul Analisis Kontruksi Frasa Nominal Bahasa Anakalang dalam cerita Rayat Anakalang Sebagai bahan Pertimbangan muatan Lokal di sekolah Lanjutan Tingkat Pertama. Penelitian ini berbicara tentang analisis kontrastif frasa nomina bahasa anakalang yang ada dalam karya sastra dibandingkan dengan bahasa Indonesia. Penelitian ini dilakukan pada tahun 1998
Penelitian bahasa Anakalang juga telah dikaji oleh Agung Putu Putra di Universitas UDAYANA Bali dengan judul Segmentasi Dialektal Bahasa Sumba di Pulau Sumba: Suatu Kajian Dialektologi merumuskan bahasa Anakalang serumpun dengan bahasa Waijewa, bahasa Loli, bahasa Kambera, bahasa wanokaka. Hasil temuan itu menunjukkan bahwa di Pulau Sumba terdapat satu bahasa dengan lima dialeknya, yakni (1) dialek Mauralewa-Kambera, (2) dialek Wano Tana/ Anakalang (Wanokaka dan Katiku Tana/ Anakalang ), (3) dialek Waijewa-Louli, (4) dialek Kodi dan (5) dialek Lamboya. Nama-nama dialek itu berkaitan dengan nama kelompok masyarakat yang membentuk kerajaan-kerajaan di masa lalu, baik pada masyarakat Sumba Timur maupun Sumba Barat.

2.2 Konsep Dasar
2.2.1 Afiksasi
Afiksasi adalah proses morfologis yang mengubah leksem menjadi kata kompleks. Menurut Verhar (2004: 107) ada empat macam afiksasi yaitu: a). Prefiks yang diimbuhkan di sebelah kiri dasar dalam proses yang disebut ‘prefiksasi’. b). Sufiks yang diimbuhkan di sebelah kanan dasar dalam proses yang disebut ‘ sufiksasi’. c). Infiks yang dimbuhkan dengan penyisipan di dalam dasar itu, dalam proses yang namanya ‘infiksasi. d). Konfiks, atau simulfiks, atau ambifiks, atau sirkumfiks yang diimbuhkan untuk sebagian di sebelah kiri dasar dan untuk sebagian di kanannya. Dalam proses yang dinamakan ‘konfiksasi’ atau ‘simulfiksasi’ atau ‘ambifiksasi’ atau sirkumfiksasi.
Proses morfologis dengan penggabungan kata mengacu terbentuknya kata kompleks yang dapat direalisasikan dalam tuturan. Yang menjadi bentuk terjadinya afiksasi yakni afiks yang merupakan bentuk terikat yang bila ditambahkan pada bentuk lain akan mengubah makna gramatikal (Kridalaksana 2002:2).
Imbuhan (afiks) adalah suatu bentuk linguistik yang di dalam suatu kata merupakan unsur langsung, yang bukan kata dan bukan pokok kata. Melainkan mengubah leksem menjadi kata kompleks, artinya mengubah leksem itu menjadi kata yang mempunyai arti lebih lengkap, seperti mempunyai subjek, predikat dan objek. Sedangkan prosesnya sendiri disebut afiksasi (affixation). Imbuhan (afiks) adalah bentuk (morfem) terikat yang dipakai untuk menurunkan kata. Syarat-syarat kata untuk dapat menjadi afiksasi, antara lain: Kata itu harus dapat ditempatkan pada bentuk-bentuk lain untuk membentuk kata atau pokok kata baru. Contoh: kata minuman, kata ini terdiri dari dua unsur langsung, yaitu kata minum yang disebut bentuk bebas dan –an yang disebut bentuk terikat. Makna ini disebut makna afiks. Contoh kata yang lain seperti: kata timbangan, pikiran, satuan.
Afiksasi adalah proses pembubuhan afiks pada sebuah kata dasar atau bentuk dasar. Afiks adalah sebuah bentuk, biasanya berupa morfem terikat yang diimbuhkan pada bentuk dasar dalam proses pembentukan kata.
Afiks dapat dibedakan menjadi: prefiks, infiks, sufiks, konfiks, interfiks dan transfiks. Unsur yang terdapat pada afiksasi adalah bentuk , fungsi dan makna gramatikal yang dihasilkan.
Afiks tidak memiliki arti leksis, artinya tidak mempunyai hubungan makna karena morfem itu berupa imbuhan. Sedangkan imbuhan itu dapat mempengaruhi arti kata itu sendiri. Contoh: bentuk –nya yang sudah tidak mempunyai pertalian arti dengan ia. Misalnya: rupanya, agaknya, termasuk golongan afiks, karena hubungannya dengan arti leksisnya sudah terputus. Imbuhan itu dapat mengubah makna, jenis dan fungsi sebuah kata dasar atau bentuk dasar menjadi kata lain, yang fungsinya berbeda dengan kata dasar atau bentuk dasar. Contoh: Kata belakang→ keterbelakangan → terbelakang. Pada kata ini terjadi perubahan bentuk ke-an.
Afiksasi merupakan salah satu proses morfologis yang paling sering ditemukan. Hal ini didukung dengan ditemukannya bentuk afiks dalam beberapa buku tata bahasa. Oleh karena itu, penulis akan membahas masalah ini berdasarkan konsep yang dikemukakan oleh Kridalaksana (2007), Keraf (1991) Ramlan (1985), Chaer (1998), dan Alwi, dkk. (2000). Menurut Kridalaksa, (2007:28) Afiksasi merupakan proses yang mengubah leksem menjadi kata kompleks. Keraf (1999 ) dalam WWW. Umbud Uin-Malang, berpendapat bahwa afiks adalah semacam morfem nondasar yang secara struktural dilekatkan pada kata dasar atau bentuk dasar untuk membentuk kata-kata baru. Ramlan (1985:47) berpendapat bahwa proses pembubuhan afiks ialah pembubuhan afiks pada suatu satuan, baik satuan itu berupa bentuk tunggal maupun bentuk kompleks, untuk membentuk kata. Chaer (1998) dalam WWW. Umbud Uin-Malang, afiks semacam bentuk yang dapat mengubah makna, jenis, dan fungsi sebuah kata dasar atau bentuk dasarnya. Alwi(2000: 31) berpendapat bahwa afiks ialah bentuk (atau morfem) terikat yang dipakai untuk menurunkan kata.
Menurut Putrayasa (2008:5) afiksasi adalah proses pembentukan kata dengan membubuhan afiks(imbuhan ) pada bentuk dasar, baik bentuk dasar tunggal maupun kompleks, misalnya pembubuhan afiks meN– pada bentuk dasar jual menjadi menjual, pertanggungjawabkan menjadi mempertanggungjawabkan. Berdasarkan bentuk di atas dapat dilihat bahwa pembubuhan afiks dapat terjadi pada bentuk tunggal maupun bentuk kompleks.
2.2.2 Afiks Infleksional
Menurut Verhar (2004:107 ) afiks infleksional yaitu afiks yang membentukan alternan-alternan dari bentuk yang merupakan kata, atau unsur leksikal yang sama. Samsuri (1980) dalam Putrayasa (2008: 113) berpendapat bahwa infleksional adalah kontruksi yang menduduki distribusi yang sama dengan dasarnya. Dapat juga dikatakan bahwa infleksional adalah proses morfologis karena afiksasi yang menyebabkan terbentuknya berbagai bentukan dengan ketentuan bahwa bentukan tersebut tetap dalam kelas kata yang sama. Pada umumnya , perubahan bentuk atau proses morfologis (infleksi) hanya menyatakan hubungan sintaksis dan tidak membawa pemindahan dari satu kelas kata ke kelas kata yang lain.
2.2.3 Afiks derivasional
Menurut Verhar (2004: 108) afiks derivasional adalah afiks yang menurunkan kata atau unsur leksikal yang lain dari kata atau unsur leksikal yang lain. Samsuri (1980) dalam Putrayasa (2008:103) berpendapat bahwa derivasional merupakan kontruksi yang berbeda distribusinya dari bentuk dasarnya. Pakar lainnya mengatakan bahwa derivasional adalah proses morfologis karena afiksasi yang menyebabkan terbentuknya beberapa bentukan dengan ketentuan bahwa bentukan tersebut berubah kelas katanya dari kata dasarnya (Suparman,1979; Clark, 1981) dalam Putrayasa (2008 : 103 ).








2.3 Landasan Teori
Teori yang digunakan dalam penelusuran masalah afiksasi ini adalah teori stuktural yang pertama kali dicanangkan oleh Ferdinand de Saussure.
Linguistik strukturalis berusaha mendeskripsikan suatu bahasa berdasarkan ciri atau sifat khas yang dimiliki bahasa itu. Pandangan ini adalah sebagai akibat dari konsep-konsep atau pandangan baru terhadap bahasa dan studi bahasa yang dikemukakan oleh bapak Linguistik Modern, yaitu Ferdinand De Saussure dalam buku Course de Linguistique Generale Course de Linguistique Generale yang disusun dan diterbitkan oleh Charles Bally dan Albert Sechehay tahun 1915 (dua tahun setelah de Saussure meninggal) Pandangan Ferdinand De Saussure bahwa bahasa adalah stuktur yakni stuktur fonologi,struktur morfologi, struktur sintaksis dan struktur semantik .
Dari keempat stuktur bahasa yang dikemukakan oleh Ferdinand de Saussure yakni struktur fonologi, morfologi , sintaksis dan semantik. Peneliti melihat aspek morfologi yaitu afiksasi sebagai suatu struktur yang perlu dikembangkan pada bahasa Sumba dialek Anakalang.







BAB III
METODE PENELITIAN
3.1 Desain Penelitian
Dalam penelitian ini metode yang digunakan adalah metode deskriptif kualitatif, yakni penelitian yang bertujuan untuk mendeskripsikan proses morfologis yang terjadi pada afiks bahasa Sumba dialek Anakalang dari segi bentuk, fungsi dan makna. Proses morfologis yang diteliti adalah afiksasi atau dengan sebutan lain mendeskripsikan proses pembentukan imbuhan, dalam hal ini yang menjadi kajian utama adalah bentuk, fungsi dan makna bahasa Sumba dialek Anakalang. Metode deskripitif bertujuan membuat deskripsi; maksudnya membuat gambaran, lukisan secara sistematis, faktual dan akurat mengenai data, sifat-sifat atau hubungan fenomena-fenomena yang diteliti (Djajasudarma, 1993: 8). Data yang dikumpulkan baik secara tertulis maupun secara lisan, dikumpulkan kemudian diteliti dengan tujuan untuk mempelajari fenomena-fenomena kebahasaan. Penelitian ini dilakukan melalui teknik catat dengan menggunakan langkah-langkah, yaitu: (1) studi pustaka, pada langkah ini penulis mencari dan mengumpulkan sumber pustaka; (2) pengumpulan data, pada langkah ini penulis mengumpulkan atas data tertulis mengenai afiks (3) pengklasifikasian data, pada langkah ini data yang telah disusun kemudian diklasifikasi sesuai dengan tujuan penelitian yaitu mencari bentuk, fungsi dan makna ; (4) penganalisisan data, pada langkah ini data yang telah diklasifikasi dan disusun secara sistematis kemudian dianalisis; (5) menyimpulkan hasil penelitian, pada langkah ini data yang telah diperoleh pada proses penganalisisan data kemudian disimpulkan.
3.2. Waktu dan Lokasi Penelitian.
3.2.1. Waktu penelitian
Penelitian ini dilaksanakan selama satu bulan , yaitu terhitung dari Desember 2009 sampai Januari 2010
3.2.2. Lokasi penelitian
Lokasi penelitian ini dilaksanakan di desa Anakalang desa Makata keri dan desa Kabela Wuntu kecamatan Katiku Tana kabupaten Sumba Tengah, Nusa Tenggara Timur.

3.3. Jenis Data dan Sumber Data
3.3.1 Jenis data
Data dalam penelitian ini berupa data lisan dan data tertulis . Data lisan berupa data bahasa yang digunakan masyarakat penutur, berupa cerita rakyat, bahasa adat, dan lagu-lagu daerah. Data tertulis berupa cerita rakyat yang dimuseumkan pada dinas kebudayaan, lagu-lagu Kidung Jemaat yang diterjemakan dalam bahasa Sumba dialek Anakalang.
3.3.2 Sumber data
Sumber data dalam penelitian ini berupa informan yaitu orang Sumba tepatnya masyarakat penutur bahasa Sumba dialek Anakalang, atau masyarakat di desa Anakalang.Penentuan informan ini harus menenuhi syarat
1. Berjumlah 5 (lima) orang yang tersebar pada tiga desa.
2. Berusia 25-75 tahun
3. Penutur asli bahasa Sumba dialek Anakalang yang jarang atau tidak pernah meninggalkan desa atau lingkungan penutur bahasa Sumba dialek anakalang Anakalang.
4. Berpendidikan minimal tamat pendidikan dasar .
5. Sedang berada di Anakalang dan lingkungan penutur bahasa Sumba dialek Anakalang.
6. Memiliki pengetahuan dan pamahaman tentang bahasa Anakalang.
7. Tidak memiliki kelainan ucapan.
8. Mampu membaca dan menulis serta dapat berbahasa Indonesia
9. Bersedia bekerja sama.
3.4. Instrumen Penelitian
Instrumen penelitian yang digunakan dalam penelitian ini antara lain, tape recorder, kodak atau kamera, daftar tanya dan kartu data . tape recorder digunakan untuk merekam data lisan . kamera dapat digunakan unyuk memotret hal-hal yang berhubungan dengan bahasa. Daftar tanya berupa pertanyaan yang berhubungan dengan kata kata bahasa indonesia yang kn diartikan ke dalam BSDA. Kartu data digunakan untuk mencatat data.
3.5. Teknik Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini dilakukan dengan beberapa cara yakni:
1. Observasi atau pengamatan langsung yang diarahkan pada pemakaian bahasa secara lisan. Dalam observasi ini juga dilakukan teknik merekam dcerita rakyat, bahasa adat dan ujaran dalam kehidupan sehari hari.
2. Wawancara yang dilakukan dengan informan di lapangan sekaligus dilakukan untuk mengecek data.
3. Intuisi, yakni peneliti membangkitkan sendiri data kebahasaan pada bahasa Sumba dialek Anakalang dengan mengandalkan intuisi kebahasaan mengingat peneliti sendiri adalah juga penutur asli bahasa yang diteliti.
3.6. Teknik Analisis Data
Setelah data terkumpul , selanjutnya dilakukan analisis untuk mendeskripsikan Afiksasi Bahasa Sumba dialek Anakalang.sekcara umum metode yang digunakan adalah metode distribusional , yaitu metode ananlisis yang alat penetunya merupakan bagian dari bahasa yang diteliti (Sudaryanto dalam Kusuma , 2007:54) dengan langkah-langkah:
1. Mendeskripsikan data berupa data lisan dan data tertulis.
2. Mengklasifikasikan kalimat-kalimat yang merupakan data afiksasi dan mengelompokan mengelompokkan berdasarkan bentuk , fungsi dan maknanya .

3.7. Teknik penyajian Hasil Analisis Data.
Penyajian hasil analisis data dalam penelitian ini dilakukan secara formal yaitu dengan menggunakan kaidah , dapat berupa rumus, diagram, tabel, dan gambar.
Demi kemudahan pemahaman , penyajian biasanya didahului atau diikuti oleh penyajian bersifat informal yaitu penyajian hasil analisis dengan menggunakan kata -kata biasa yakni kata- kata yang setelah dibaca dapat dipahami (Sudaryanto dalam Kusuma , 2007:71

Minggu, 14 Maret 2010

CERITA TENTANG SUMBA

Buat Torine Rambu Baba Ama

Hidup adalah kerinduan ilahi
Kemana
Akan ku arungi padang ilalang yang menjulang
Selaksa erangan kuda pacu
Kemana lagi
Akan ku gapai
senyuman rambu meresapi tubuh sumba
sedetik yang lalu
tanah sumba menjulang
antara istal
tuk bisikan sabda di helai tiris matamu
yabu
rambutmu terurai lurus
menghantarku pada mauri
sabda apa yang ingin kau dendangkan dibathin ku
bila kabar tentang sumba
tentang umbu
tentang yabu
tentang pasola
biarlah aku sirna menyatu dengan sumba
agar alunan ilalang
pekikan kuda sumba menyambut daku
dengan linangnya embun membasahi safana dimatamu
rambu
ingin ku alunkan melodi harpa
nyanyian bebatuan yang menemani jiwamu
rambu ingin ku kalungkan sajak ku pengganti muti
yang sacral
bila esok dari nafas mu
melahirkan sajak-sajak
dari sajakmulah aku telah di baptis menjadi bocah sumba.



oleh ABDUL MAHYUDIN DJO... PMC
PEMALAS
Jenuh kulewati hari ini
Penuh liku ,
Lemah tungkai kakiku
Tak kutemukan nilai sebuah kehidupan

Entah rasa apa yang kini berkecamuk
Setan mana yang telah merasukiku
Semua yang kulakukan
Hampa dan lahir dari kesia-sian

Mungkin inilah yang dikatakan
Kemana lagi jiwa ini kucari
Sementara ia terus lari
Dan tak menghendaki

Apa yang mesti kuperbuat
Kau menghujaniku dengan peluru
Tak satupun dapat kulakukan
Apa lagi melakukannya dengan sempurna

Jika kau melihatku letih
Itu bukan karena aku memang letih
Tapi demi waktu yang bicara
Aku berani katakan aku begitu tak berdaya

Pantaskah aku berpikir
Untuk apa semuanya kulakukan
Sementara langit bermuram durja
Aku pun larut dalam kelalain ini

Mungkin ini yang dikatakan
Akh aku tak berani menebak
Tapi biarlah sulbi jiwa ini
Merangkak dan bicara

Dari kedalaman jiwa
Maafkan aku yang tak bisa
Berbuat yang terbaik
Aku gundah gulana

Hai kau yang terus memojokkanku
Aku bukannya tidak bisa
Tapi bicaralah demi pertemanan yang abadi
Aku ingin jujur katakan, aku tak sanggup ungkapkan


Meski dari pernik kata yang haturkan
Ingin mengubah jiwa yang tertati ini
Jangan kau katakan itu lagi
Jika kau ingin yang terbaik kulakukan.

Aku memang pengecut
Mungkin juga ada yang lebih kasar
Aku patung batu beku
Yang kan melumut jika tersiram

Ahk .... aku tak tahu
Mengapa ini bisa terjadi padaku
Mungkin nasip
Mungkin pun takdir

Aku lebah, tak cerdik
Bahkan cenderung lamban
Itu steming dasar yang kumiliku
Aku bertempramen plegmatis

Semuanya malas kulakukan
Jika ada yang mengajakku
Aku hanya menjawab dengan satu ayunan
Gelengan dan kukatakan TIDAK

Aku mungkin tak bisa dijadikan
Sahabat untuk berbagi
Karena sekali sempat mereka berduka
Aku tak dapat membantu dengan tangkas

Aku sering disebut si Pemalas
Nama yang begitu keji
Kau bahkan mereka tambatkan

Maafkan aku yang malas ini
Tapi jujur demi waktu yang berdetak
Demi langit yang kugenggam
Ingin kulantunkan



Seribu larik dalam satu hempasan
Ingin kudendangkan
Jangan lagi kau ucapkan
Aku seorang PEMALAS


Ingin kuubah semua getis itu
Ingin ku tendang semua keegoisanku
Dan aku mau bicara pada semesta
Aku tidak ingin kau katakan PAMALAS





Karya torine rambu baba ama

Sabtu, 13 Maret 2010

JENDELA IMAJINASI

HITAM YANG KELAM
Oleh: Torine Rambu Baba Ama
Lelaki separuh baya itu berdiri dan kadang berjalan gontai, sesekali juga ia duduk menggamit jenggotnya yang lebat, yang sudah berbulan-bulan tak dicukurnya, sangat mengganaskan, untuk mencukur jengot saja tak mempunyai kesempatan. Wajahnya kecut,rambut gondrong, tinggi, kurus dan hitam buram warna kulitnya. Nama lelaki itu adalah Beni, ia berumur 23 tahun namun wajahnya menunjukkan seolah-olah ia berumur 40-an. Tua adalah proses kembali pada masa kanak-kanak, kematian adalah bentuk lain dari kelahiran kembali. Beni sepertinya tak mempunyai masa depan yang pasti, ia terlunta-lunta di jalanan, boleh dikatakan ia adalah seorang pengacara, “penganggur banyak acara”. Tubuhnya tidak menunjukkan sedikitpun kalau ia pernah menjadi seorang mahasiswa universitas terkenal di kotanya, yang kerap menjadi keangkuhan seseorang untuk sebutan seorang mahasiswa. Matanya kuyu, dan di bawah kelopak matanya ada bercak hitam yang memperlihatkan letihnya jiwa dan padamnya semangat yang pernah terbakar ketika 4 tahun yang lalu ia ditempah sebagai mahasiswa baru. Lilin kecil bersama tangisannya ketika refleksi pada Mabim fakultas hanyalah sebening peristiwa yang lalu begitu saja, tak berarti, apalagi bermakna. Lilin yang diangkatnya akhirnya padam seiring habisnya lelehan cadas dan ternyata semua itu hanya lambang kemunafikan, kemunafikan hidup yang awalnya semua seperti dapat diatasi dengan indah . Apa boleh dikata semua telah terjadi. Penat, perih, dan luka berkecamuk, waktu terus berlanjut, tak ada persinggahan, tak perlu disesalkan, kita boleh ingin mengukir kembali tapai perjalanan waktu tak dapat dipungkiri, berlalu seperti burung tanpa hinggapan, tak ada keindahan, melewati hari rubuh tanpa ratapan, hanya desahl jiwa yang patah, hati yang tak karuan. Hidup Beni hanyalah seonggok cerita yang tak patut dituturkan.
Beni adalah seorang pemuda yang merantau dari salah satu pulau di kepulauan Flobamora. Kedatangannya di kota karang ini adalah untuk menunjukkan bahwa ia adalah orang yang dibangga-banggakan orang-orang terkasihnya . Ia mempunyai tekat yang kuat untuk menyelesaikan tugas dan tanggung jawabnya sebagai mahasiswa. Tapi detik-detik berlalu, hentakan –hentakan pijaran berlanjut, jiwa Beni kering. Ia merana, semuanya brelalu dengan sia-sia. Ia mengalami goncangan jiwa yang hebat. Orang terdekatnya tak lagi menjadi teman yang baik, semuanya lari dari kehiduapn normalnya
Awalnya Beni adalah seorang yang kuat, pintar, berani dan cerdas. Ia menjadi ketua tingkat di kelasnaya, menjadi kepercayaan dosen-dosenya, penuh vitalitas, agresif dan menjadi teladan bagi teman-temannya. Semua orang senang bergaul dengannya.
Beni mengikuti organisasi di tiga tempat, ia senang menimba pengalaman dan berlatih. Perkuliahan nya juga berlangsung baik, tugas dapat ia kerjakan. Hal ini terus berlanjut selama satu semerter, hingga suatu saat, Beni mengenal seorang yang ia ingin jadikan teman yang dapat mengerti, membantu, dan tepatnya curahan hati. Bunga yang di tanam Beni mekar. Beni telah mempunyai pujaan hati, Sinta namanya.
Beni mempunyai prinsip, ia harus menjalankan dan melewati trisukses hidup, sukses organisasi, sukses studi, dan sukses cinta. Paradigma ini lambat laun tak disadarinya menyeretnya pada kubangan kepahitan.
“ Beni sebentar ada rapat. Kamu harus ikut ya, Undangannya kemarin sudah kami bawa ke kontrakanmu, kira-kira jam 3 petang, tap kamu tak ada”
“Tapi saya ada kuliah, dan saya harus mempresentasikan makalah saya, kemungkinan saya tidak bisa ikut”.
“Kamu harus ikut! Pertemuan ini sangat penting. Minggu depan saja baru kamu ikut kuliah’’
“ Ach! Yem, kamu buat saya bingung saja,. Jujur saya ingin ikut pertemuan. Tapi saya juga tidak bisa tinggalkan kuliah sore ini.”
Jemi terus membujuk Beni dengan berbagai cara, bahkan jurus paling ampuh pun digunakannya, Kemampuan persuasi Jemi memang luar biasa. Ia bisa menyakinkan seseorang untuk melakukan apa yang di kehendakinya, seperti pada pagi ini, ia membuat Beni tak ragu untu mengikuti pertemuan di Naikoten.
“Ben, katanya kamu parte dengan dosen., masa untuk izin sebentar saja tak dapat, apalagi untuk kegiatan yang kamu senangi seperti ini’’
“Ok sebertar saya ikut”
Beni lalu mengambil keputusan untuk mengikuti pertemuan , tapi sore harinya ketika ia bersiap untuk mengikuti pertemuan, telepon genggam Beni berdering. Ia melihat ke layer monitor, , Sinta!!. Dengan cepat diangkatnya,
“Halo sayang, ada apa,? Kangen kow?.
“Ia, sayang, makanya saya telepon. Kita ke Tedis kow? Sekarang. Pokoknya harus, kamu datang ke kostku dan kita sama –sama ke sana.”
“Adu, sayang, hari ini saya ada pertemuan di organisasi, kuliah pun saya tidak ikut, kamu lagi mau ajak saya, lain kali ajah yah”.
“Terserah kamu,. Urus saja organisasimu itu” Telepon dimatikan, Sinta marah. Beni bingung dan kalut. Ia tak tahu harus mengikuti yang mana. Ia tak bisa membagi waktu, bingung. Tidak mengikuti rapat karna ia sangat mencintai Sinta? Melepaskan studi untuk rapat? Perbuatan keliru,mungkin. Tujuan utamanya adalah kuliah.
Beni benar- benar tak tahu apa yabg harus ia buat. Kejadian in terus berlanjut. Beni berada dalam kebimbangan, hingga akhirnya nasibnya kendor. Ia letih, tak lagi menjadi kebanggaan Dosen. PPL dan KKN belum dilaksanakannya. Tugas tak lagi menjadi prioritasnya. Setiap waktunya digunakan untuk mewujudkan program-program yang di rancang dalam organisasi, apalagi setelah ia terpilih menjadi ketua panitia sebuah seminar besar.
Akhirnya tak ada yang dapat dilakukanya dengan sempurna. Semester delapan, pada evaluasi akademis, Beni di DO karena SKS tak cukup dan IPK tak mencapai standar. Penjuangan panjangnya menjadi sia-sia. Harapannya menjadi pupus dimakan kenyataan. Saat yang genting ini, seharusnya Sinta berada disampingnya, memberi kekuatan. Seharusnya? Dan inilah kenyataan. Apa yang didapatnyya tak jauh dari pepatah, “ sudah jatuh ditimpah tangga” Sinta memutuskan hubungan mereka secara sepihak, dengan alasan Beni tak punya waktu buat Sinta, padahal Sinta sangat membutuhkannya. Begitulah perjalanan penjuangan Beni yang kandas. Hitam yang kelam menjadi teman sejati Beni, seorang yang tangguh dalam berpikir.
The end.
Salam kreasi



* * *
PUISI – PUISI TRBA
KUCARI JATI DIRI

Oleh : Torine Rambu Baba Ama .
Tapak sepatu tua
Cerami terseyum, aspal menggigit
Senyum, ada rasa berarak..
Tak sanggup.. aku tak sanggup

Karang,, aku mengadu
Pada tubuhmu yang tajam
Pada batangmu yang kekar
Langkah ini kupijak
Di atas cadasmu

Peluh mengalir…
Hentakan sepatu tua ini
Masih juga kujalejahi
Sampai kapan?
Sampai robek dan tirusmu beringsut
Aku tak kuatir
Akan ada kesia-sian , karena kuyakin
Bersama kita rajuk, cinta.
Menggapai mahligai cendana.
Hentakan patu tua ini
Memberiku arti hidupku kelak


SUMBA TENGAH, HIPARMAST
Catatan Tua, di Gedung Tua Aula Komodo.
Oleh : Torine Rambu Baba Ama (0601010066)
Semester VI
Mata kuliah: Bengkel Sastra

Kemarin , jumad 23 mei 2009
Mengapa kita terus mengadu
Tidak pada batu yang menatangkan hadirmu
Mengapa semua lekuk itu
Terus berkecamuk
Bukan dengan karang?
Aku mungkin jenuh
Tapi taukah kau saudaraku
Betapa perih merinti tinggal kan sepi yang merana

Jangan kau tanyakan
Mengapa kita terdiam
Perih itu telah menusuk dada
Senjata apa lagi yang akan kita canangkan
Jika sang bayu pun enggan melepas pedih
Lalu apa yang kupertanyakan
Sementara langit sang asam tua menertawai ketidakberdayaanku.
Jika aku masih sempat bertanya
Itu karena hatiku ingin barkata
Benar kah aku mencintai
Tana tuwu watu lihi
Jawablah sang bayu!!!!
Karena aku ciNta tana tuwu watu lihi.
Benarkah
Jawablah gedung tua beralas karang
Tanah timur tanah garang
Sujumput angin rumput savana, coklat ilalang memberi arti jiwa yang rapuh

Hari ini ku tulis lagi catatanku.
Aku membawa cerita tentang kita.
Semuanya terpatri, jika kita mulai lagi menatap nuansa dunia
Kuyakin dengan ketegaran hati
Tekat itu akan ada dalam nubari kita
Sejumput asa tak lekang oleh waktu. Kita lahir dengan nama .
Nama adalah muatan batin, nama adalah kunci pintu penjara batin
Bebaskanlah diri dari lekang waktu yang tertusuk,
Mungkin itu cerita hidup dari dinamika.
Kita adalah satu.
Nama kita adalah nama. Biarlah cinta kita berpatri di sini
Di tempat kita melabuhkan mimpi satu dalam komonitas yang namanya
HIPERMAST