Selasa, 29 Juni 2010

SLOGAN

SLOGAN
BAHASA ADALAH BUNYI (FERDINANT DE SAUSURE)
BUNYI BAHASA ADALAH BUNYI BERARTI
BUNYI BERARTI KECIL ADALAH KATA

KATA IALAH BUNYI BAHASA BERMAKNA
KATA ADALAH SEBUAH NAMA
NAMA IALAH PENANDA
NAMA IALAH MUATAN BATIN
NAMA PEMBENTUK KESADARAN
NAMA ADALAH SUMBER TERANG AKAL
NAMA ADALAH PEMBENDAHARAAN BATIN

NAMA ADALAH SEBUAH KATA
KATA ADALAH KUNCI PINTU PENJARA BATIN
KATA ADALAH PENENTU KEBEBASAN

KATA ADALAH BAHASA
BAHASA PENANDA IDENTITAS
BAHASA ADALAH CERMIN KEPERIBADIAN
BAHASA ADALAH WUJUD PERADABAN KOMONITAS

NAMAKU TORINE RAMBU BABA AMA
PINTU PENJARA BATINKU

Yang tidak bisa dilakukan seorang ayah

Yang tidak bisa dilakukan seorang ayah

Biasanya, bagi seorang anak perempuan yang sudah dewasa, yang sedang bekerja diperantauan, yang ikut suaminya merantau di luar kota atau luar negeri, yang sedang bersekolah atau kuliah jauh dari kedua orang tuanya.. akan sering merasa kangen sekali dengan Ibunya.Lalu bagaimana dengan AYAH? Mungkin karena Ibu lebih sering menelepon untuk menanyakan keadaanmu setiap hari, tapi tahukah kamu, jika ternyata AYAH-lah yang mengingatkan Ibu untuk menelponmu?
Mungkin dulu sewaktu kamu kecil, Ibu-lah yang lebih sering mengajakmu bercerita atau berdongeng, tapi tahukah kamu, bahwa sepulang AYAH bekerja dan dengan wajah lelah AYAH selalu menanyakan pada Ibu tentang kabarmu dan apa yang kau lakukan seharian?
Pada saat dirimu masih seorang anak perempuan kecil.. AYAH biasanya mengajari putri kecilnya naik sepeda. Dan setelah AYAH mengganggapmu bisa, AYAH akan melepaskan roda bantu di sepedamu…Kemudian Ibu bilang : “Jangan dulu AYAH, jangandilepasdulurodabantunya”
Ibu takut putri manisnya terjatuh lalu terluka….
Tapi sadarkah kamu?Bahwa AYAH dengan yakin akan membiarkanmu, menatapmu, dan menjagamu mengayuh sepeda dengan seksama karena dia tahu putri kecilnya PASTI BISA.
Pada saat kamu menangis merengek meminta boneka atau mainan yang baru, Ibu menatapmu iba. Tetapi AYAH akan mengatakan dengan tegas : “Boleh, kita beli nanti, tapi tidak sekarang”Tahukah kamu, AYAH melakukan itu karena AYAH tidak ingin kamu menjadi anak yang manja dengan semua tuntutan yang selalu dapat dipenuhi?
Saat kamu sakit pilek, AYAH yang terlalu khawatir sampai kadang sedikit membentak dengan berkata : “Sudah di bilang! kamu jangan minum air dingin!”.Berbeda dengan Ibu yang memperhatikan dan menasihatimu dengan lembut. Ketahuilah, saat itu AYAH benar-benar mengkhawatirkan keadaanmu.
Ketika kamu sudah beranjak remaja…. Kamu mulai menuntut pada AYAH untuk dapat izin keluar malam, dan AYAH bersikap tegas dan mengatakan: “Tidak
boleh!”.Tahukah kamu, bahwa AYAH melakukan itu untuk menjagamu? Karena bagi AYAH, kamu adalah sesuatu yang sangat - sangat luar biasa berharga..Setelah itu kamu marah pada AYAH, dan masuk ke kamar sambil membanting pintu… Dan yang datang



mengetok pintu dan membujukmu agar tidak marah adalah Ibu….Tahukah kamu, bahwa saat itu AYAH memejamkan matanya dan menahan gejolak dalam batinnya, bahwa AYAH sangat ingin mengikuti keinginanmu, tapi lagi-lagi dia HARUS menjagamu?

Ketika saat seorang cowok mulai sering menelponmu, atau bahkan datang ke rumah untuk menemuimu, AYAH akan memasang wajah paling cool sedunia…. :AYAH sesekali menguping atau mengintip saat kamu sedang ngobrol berdua di ruang tamu..Sadarkah kamu, kalau hati AYAH merasa cemburu?
Saat kamu mulai lebih dipercaya, dan AYAH melonggarkan sedikit peraturan untuk keluar rumah untukmu, kamu akan memaksa untuk melanggar jam malamnya.Maka yang dilakukan AYAH adalah duduk di ruang tamu, dan menunggumu pulang dengan hati yang sangat khawatir…dan setelah perasaan khawatir itu berlarut- larut… ketika melihat putri kecilnya pulang larut malam hati AYAH akan mengeras dan AYAH memarahimu.. .Sadarkah kamu, bahwa ini karena hal yang di sangat ditakuti AYAH akan segera datang? “Bahwa putri kecilnya akan segera pergi meninggalkan AYAH”
Setelah lulus SMA, AYAH akan sedikit memaksamu untuk menjadi seorang Dokter atau Insinyur/Sarjana Teknik.Ketahuilah, bahwa seluruh paksaan yang dilakukan AYAH itu semata - mata hanya karena memikirkan masa depanmu nanti…Tapi toh AYAH tetap tersenyum dan mendukungmu saat pilihanmu tidak sesuai dengan keinginan AYAH
Ketika kamu menjadi gadis dewasa…. dan kamu harus pergi kuliah dikota lain… AYAH harus melepasmu di bandara.Tahukah kamu bahwa badan AYAH terasa kaku untuk memelukmu?AYAH hanya tersenyum sambil memberi nasehat ini - itu, dan menyuruhmu untuk berhati-hati. .Padahal AYAH ingin sekali menangis seperti Ibu dan memelukmu erat-erat.Yang AYAH lakukan hanya menghapus sedikit air mata di sudut matanya, dan menepuk pundakmu berkata “Jaga dirimu baik-baik ya sayang”.AYAH melakukan itu semua agar kamu KUAT…kuat untuk pergi dan menjadi dewasa.
Disaat kamu butuh uang untuk membiayai uang semester dan kehidupanmu, orang pertama yang mengerutkan kening adalah AYAH.AYAH pasti berusaha keras mencari jalan agar anaknya bisa merasa sama dengan teman-temannya yang lain.
Ketika permintaanmu bukan lagi sekedar meminta boneka baru, dan AYAH tahu ia tidak bisa memberikan yang kamu inginkan…Kata-kata yang keluar dari mulut AYAH adalah : “Tidak…. Tidak bisa!”Padahal dalam batin AYAH, Ia sangat ingin mengatakan “Iya sayang, nanti AYAH belikan untukmu”.Tahukah kamu bahwa pada saat itu AYAH merasa gagal membuat anaknya tersenyum?
Saatnya kamu diwisuda sebagai seorang sarjana.AYAH adalah orang pertama yang berdiri dan memberi tepuk tangan untukmu.AYAH akan tersenyum dengan bangga dan

puas melihat “putri kecilnya yang tidak manja berhasil tumbuh dewasa, dan telah menjadi seseorang”
Sampai saat seorang teman Lelakimu datang ke rumah dan meminta izin pada AYAH untuk mengambilmu darinya.AYAH akan sangat berhati-hati memberikan izin…Karena AYAH tahu…..Bahwa lelaki itulah yang akan menggantikan posisinya nanti.
Dan akhirnya…. Saat AYAH melihatmu duduk di Panggung Pelaminan
bersama seseorang Lelaki yang di anggapnya pantas menggantikannya, AYAH
pun tersenyum bahagia….Apakah kamu mengetahui, di hari yang bahagia itu AYAH pergi kebelakang panggung sebentar, dan menangis?AYAH menangis karena AYAH sangat berbahagia, kemudian AYAH berdoa…. Dalam lirih doanya kepada Tuhan, AYAH berkata: “Ya Tuhan tugasku telah selesai dengan baik…. Putri kecilku yang lucu dan kucintai telah menjadi wanita yang cantik…. Bahagiakanlah ia bersama suaminya…”
Setelah itu AYAH hanya bisa menunggu kedatanganmu bersama cucu-cucunya yang sesekali datang untuk menjenguk…Dengan rambut yang telah dan semakin memutih…. Dan badan serta lengan yang tak lagi kuat untuk menjagamu dari bahaya….
AYAH telah menyelesaikan tugasnya….
AYAH, Bapak, Papa atau Abah kita… Adalah sosok yang harus selalu terlihat kuat… Bahkan ketika dia tidak kuat untuk tidak menangis…
Dia harus terlihat tegas bahkan saat dia ingin memanjakanmu. .
Dan dia adalah orang pertama yang selalu yakin bahwa “KAMU BISA” dalam segala hal..
banyak hal yang mungkin tidak bisa dikatakan Ayah / Ama/ Ubu/ bapak / Romo / Abah / Papa / Papi / Daddy kita… tapi setidaknya kini kita mengerti apa yang tersembunyi dibalik hatinya
Yes I love you so much, daddy
Bapa kunamupinguwu bapa…. Nyuwa naanamu ma buhagu.
Lai auya kupaharainya namorukugu,,
Ama na morukda ta atida. Kubuhagu bapa. Dakubulamagu.

KUTULIS PUISI PADA PASIRMU

KUTULIS PUISI PADA PASIRMU
Hanya doa
Sembunyi di batubatu
Di mawar sunyi
Di pagar rindu
Di langit sengit
Aku menyebut
Membawa benang-benang baru
Untuk hidupku
Hidupmu

Ia tertulis di telapak tangan
Lihatlah garis-garisnya
Ia tak bisa di ubah
Bahkan oleh kenangan

Kutulis puisi pada pasirmu

Ingatkah kau pada lampu tua itu
Bangku rayap coklat penuh brayap kayu
Dinding putih penuh kaligrafimu
Tirai hijau berderai-derai
Mendengar rinduku yang tak sampai padamu

karena kupilih mawar sedang aku berduri
Kusembah tiangtiang sedang aku bambo
Kubaca zikir sedang aku sihir
Kuhibah laut sedang aku lembah takut

Kutulis puisi pada pasirmu
Betapa sakit doaku yang tak sampai
Di antara doa karang
Ikan
Ombak
Nelayan
Para pemabuk di laut itu

Aku ingin mengurai cinta
Seperti puisi pejalan sunyi
Meski terhapus gelombang
Yang dikirimkan doa ikan ikan
Meski impian
tak cukupuntuk dituliskan

Anakanak surau
Membaca hurufmu
Diantara tiangtiang perahu
Ketika matahari mulai sembunyi
Dan aku
Masih tulis puisi pada pasirmu

puisi -puisi baru... Torine didedikasikan untuk sumba tengah

AKU , KAU, KITA UNTUK SUMBA TENGAH
Pagi ini…
Kukumpulkan mozaik-mozaik kata
Ingin kulantunkan untuk yang tercipta
Dalam permenungan panjangku mencari kesejatian itu
Kudapati bait-bait lugu yang terbata, tertatih!!!
Pagi ini…
Ingin pula kukirimkan rinduku yang tak pernah sampai pada pesona alamku
Ingin kukibarkan lambing kemenangan kita
tapi untuk kesekian kalinya kata yang menjadi nubariku,
kata yang bukan kehampaanku
tengadah dan tak sampai padamu
aku tak menemukan kesejatian itu
kemana….?
Dimana ?sumba tengah yang kukagumi
Mengapa ia masih tertidur
Sementara aku masih ingin mendendangkan
Mahar ini di negeri tapakan kaki kuda itu
lumpuhkah kita

marilah dengarkan dendang penyair ini
penyair tak bernama, yang tangannya tak sempat tengadah
yang mati karena tak menemukan kesejatian itu
“ puisi sama tingginya dengan nilai sebuah kejujuran”
Aku ingin bernazar
Ada yang atas nama Tuhan melecehkan Tuhan
Ada yang atas nama Negara melecehkan Negara
Ada yang atas nama keadilan meruntuhkan keadilan
Ada yang atas nama rakyat menindas rakyat
Ada yang atas nama kemanusiaan memangsa manusia
Ada yang atas nama persatuan merusak persatuan
Ada yang atas nama perdamaian mengusik kedamaian
Ada yang atas nama kemerdekaan memasung kemerdekaan
Maka atas nama apa saja dan siapa saja
Ataupun atas nama desiran savanna, ringkikan kuda, dengungan gong ingin kukatakan
Dengungkan suaramu untuk pembaharuan
Aku rasa!!!!
Kita seharusnya menulis dan menceritakan hal itu kepada mereka disisni… di sana
Bumi savanna kita
5tentang segala kebangkitan
Yah bangkit itu marah
marah bila martabat bangsa dilecehan
bangkit untuk mencuri perhatian dunia perhatian dunia dengan prestasi
tidak ada kata menyerah, tidak ada kata putus asa
tuliskan mozaik katamu
kata itu aku
kata itu kau
kata itu kita
“aku , kau , kita untuk SUMBA TENGAH
Torine Rambu Thelcano bush

Kamis, 25 Maret 2010

Nama : Torine Rambu Baba Ama
NIM : 0601010066
Mata Kuliah : pengkajian bahasa daerah NTT
1. Deskripsi sebuah masalah
Pengembangan dan pembinaan bahasa Indonesia dan bahasa daerah secarah terus menerus dilakukan oleh pemerintah bkerja sama dengn pusat pengembangan bahasa. Mahasiswa jurusan bahas juga terus melakukan penelitian tentang bahsa itu sendiri. Pembinaan dan dan pengembangan bahasa daerah tidak saja bertujuan untuk menjaga kelestarian bahas daerah tapi juga bermanfaat untuk pembinaan , pengembangan dan pembakuan bahasa Indonesia. Pengembangan dan pembinaan bahasa nasional toidak terlepas dari pengembangan bahsa daerah, karena mempunyai hubungan timbale balik.
Bahasa Sumba dialek Anakalang adalah salah satu bahsa daerah di Indonesia yang berkembang di daerah Anakalang. Bahasa Sumba dialek Anakalangdituturkan oleh masyarakat sebagai alat komonikasi , media satra lisan dalam upacara adapt seperti upacara perkawinan, kematian, perta raya dan lain-lain.
Seperti bahasa bahasa daerah lainnya yang mengalami proses morfologis, Bahasa Sumba dialek Anakalang juga mengalami proses morfologis. Seperti afiksasi contoh dalam bahasa Indonesia, makan +an = makanan dalam Bahasa Sumba dialek Anakalang juga terdapat peristiwa bahasa seperti ini misalnya pa+ kedu = pakedu ;yapa+ya=yapaya ; pa+midar+ya= pamidarya dari kata dasar kedu, yapa dan midar. Kedu = curi, pakedu = curian, yapa = tangkap yapaya= menangkap, midar = rata= pamidarya= meratakan. Menurut Verhar 2000 bahwa proses morfologis terdapat dalam semua bahasa di dunia. Afiksasi adalah proses morfologis yang mengubah leksem menjadi kata kompleks. Proses morfologis dengan penggabungan kata mengacu terbentuknya kata kompleks yang dapat direalisasikan dalam tuturan. Yang menjadi bentuk terjadinya afiksasi yakni afiks yang merupakan bentuk terikat yang bila ditambahkan pada bentuk lain akan mengubah makna gramatikal (Kridalaksana 2002:2).
Syarat-syarat kata untuk dapat menjadi afiksasi, antara lain: Kata itu harus dapat ditempatkan pada bentuk-bentuk lain untuk membentuk kata atau pokok kata baru.



2. Gejalah yang muncul.
Gejala yang muncul bahasa dalam Bahasa Sumba dialek Anakalang juga terdapat proses perubahasan kata dasar yang mempunyai awalan, akhiran , dan gabungan afiks.
3. Asumsi
Asumsi saya bahwa dalam Bahasa Sumba dialek Anakalang juga terdapat [roses morfologis yaitu afiksasi

4. Kerangka Masalah

Berdasarkan asumsi dan gejalah di atas maka kerangkah masalah penelitian sebagai berikut:
a. Afiks-afiks apa sajakah yang terdapat dalam bahasa Sumba dialek Anakalang
b. Bagaimanakah fungsi afiks bahasa Sumba dialek Anakalang?
c. Bagaimanakah makna gramatikal afiks bahasa Sumba dialek Anakalang?

5. Tawaran Judul
Afiksasi Bahasa Sumba Dialek Anakalang


Jumad, 27 maret 2010
Nama : Torine Rambu Baba Ama
NIM : 0601010066
Mata Kuliah : pengkajian bahasa daerah NTT
1. Deskripsi sebuah masalah
Pengembangan dan pembinaan bahasa Indonesia dan bahasa daerah secarah terus menerus dilakukan oleh pemerintah bkerja sama dengn pusat pengembangan bahasa. Mahasiswa jurusan bahas juga terus melakukan penelitian tentang bahsa itu sendiri. Pembinaan dan dan pengembangan bahasa daerah tidak saja bertujuan untuk menjaga kelestarian bahas daerah tapi juga bermanfaat untuk pembinaan , pengembangan dan pembakuan bahasa Indonesia. Pengembangan dan pembinaan bahasa nasional toidak terlepas dari pengembangan bahsa daerah, karena mempunyai hubungan timbale balik.
Bahasa Sumba dialek Anakalang adalah salah satu bahsa daerah di Indonesia yang berkembang di daerah Anakalang. Bahasa Sumba dialek Anakalangdituturkan oleh masyarakat sebagai alat komonikasi , media satra lisan dalam upacara adapt seperti upacara perkawinan, kematian, perta raya dan lain-lain.
Seperti bahasa bahasa daerah lainnya yang mengalami proses morfologis, Bahasa Sumba dialek Anakalang juga mengalami proses morfologis. Seperti afiksasi contoh dalam bahasa Indonesia, makan +an = makanan dalam Bahasa Sumba dialek Anakalang juga terdapat peristiwa bahasa seperti ini misalnya pa+ kedu = pakedu ;yapa+ya=yapaya ; pa+midar+ya= pamidarya dari kata dasar kedu, yapa dan midar. Kedu = curi, pakedu = curian, yapa = tangkap yapaya= menangkap, midar = rata= pamidarya= meratakan. Menurut Verhar 2000 bahwa proses morfologis terdapat dalam semua bahasa di dunia. Afiksasi adalah proses morfologis yang mengubah leksem menjadi kata kompleks. Proses morfologis dengan penggabungan kata mengacu terbentuknya kata kompleks yang dapat direalisasikan dalam tuturan. Yang menjadi bentuk terjadinya afiksasi yakni afiks yang merupakan bentuk terikat yang bila ditambahkan pada bentuk lain akan mengubah makna gramatikal (Kridalaksana 2002:2).
Syarat-syarat kata untuk dapat menjadi afiksasi, antara lain: Kata itu harus dapat ditempatkan pada bentuk-bentuk lain untuk membentuk kata atau pokok kata baru.



2. Gejalah yang muncul.
Gejala yang muncul bahasa dalam Bahasa Sumba dialek Anakalang juga terdapat proses perubahasan kata dasar yang mempunyai awalan, akhiran , dan gabungan afiks.
3. Asumsi
Asumsi saya bahwa dalam Bahasa Sumba dialek Anakalang juga terdapat [roses morfologis yaitu afiksasi

4. Kerangka Masalah

Berdasarkan asumsi dan gejalah di atas maka kerangkah masalah penelitian sebagai berikut:
a. Afiks-afiks apa sajakah yang terdapat dalam bahasa Sumba dialek Anakalang
b. Bagaimanakah fungsi afiks bahasa Sumba dialek Anakalang?
c. Bagaimanakah makna gramatikal afiks bahasa Sumba dialek Anakalang?

5. Tawaran Judul
Afiksasi Bahasa Sumba Dialek Anakalang


Jumad, 27 maret 2010

Senin, 22 Maret 2010

afiksasi bahasa sumba dialek anakalang

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Bangsa Indonesia adalah bangsa yang terdiri atas beragam etnis dan setiap etnis mempunyai kebudayaan masing-masing termasuk bahasanya. Setiap bahasa mempunyai tiga sistem yaitu sistem fonologi yang berbicara tentang sistem bunyi , sistem morfologi yang berbicara tentang struktur kata dan sistem sintaksis yang berbicara tentang stuktur kalimat. Oleh karena bahasa memiliki sistem sendiri maka analisis stuktur bahasa pada hakikatnya merupakan sesuatu hal yang penting untuk menemukan kebenaran struktur kebahasaan menurut sistem bahasa itu sendiri.
Bahasa adalah rekaman budaya penutur yang patut dilestarikan. Sebagai bahasa nasional bahasa Indonesia merupakan lambang kebangsaan dan lambang identitas. Bahasa Indonesia harus mampu mencerminkan nilai sosial budaya yang mendasari rasa kebangsaan itu. Demikian pun bahasa daerah, harus bisa menunjukkan nilai sosial budaya. Hal ini akan terjadi jika penutur bahasa daerah mampu menjaga eksistensi bahasa daerahnya.
Nusa Tenggara Timur adalah salah satu provinsi di Indonesia yang memiliki banyak pulau dengan bahasa daerahnya masing masing seperti pulau Timor dengan bahasa Dawan, Tetun , dan lain-lain pualau Sumba dengan bahasa Sumba.
Menurut Putu Putra (2009) dalam WWW. Umbud Uin-Malang. Bahwa Di Pulau Sumba hanya terdapat satu bahasa, yakni bahasa Sumba dengan beberapa dialek berdasarkan segmentasi dialektal. Putu menerangkan keanekaragaman dialek dan subdialek berdasarkan penelusuran bentuk turunan dari bentuk asalnya. Perbedaan bentuk linguistik yang diperoleh dengan menggunakan 936 glos meliputi: 727 glos yang berian-beriannya berbeda secara leksikal; 173 glos yang berian-beriannya berbeda secara fonologis; 21 glos yang berian-beriannya berbeda secara morfologis, dan 15 glos yang berian-beriannya tidak berbeda. Di dalam 727 glos yang beriannya berbeda secara leksikal terdapat glos-glos yang menunjukkan perbedaan secara fonologis dan morfologis, tetapi tetap dimasukkan dalam berian-berian yang berbeda secara leksikal karena satu atau lebih beriannya itu berbeda secara leksikal dan hasil pendeskripsian variasi Bahasa Sumba menunjukkan bahwa terdapat bunyi vokal dan bunyi konsonan yang bervariasi teratur dan bervariasi sporadis beserta daerah sebarannya di 20 titik pengamatan. Penerapan metode pengelompokan bahasa, yaitu penggunaan berkas isoglos, penghitungan dialektometri (leksikal dan fonologis), penghitungan gabungan dialektometri leksikal dan fonologis, serta penghitungan permutasi. Temuan tersebut menghasilkan temuan pengelompokan dialek dan subdialek BS di Pulau Sumba. Hasil temuan itu menunjukkan bahwa di Pulau Sumba terdapat satu bahasa dengan lima dialeknya, yakni (1) dialek Mauralewa-Kambera, (2) dialek Wano Tana /Anakalang (Wanokaka dan Katiku Tana / Anakalang ), (3) dialek Waijewa-Louli, (4) dialek Kodi, dan (5) dialek Lamboya. Nama-nama dialek itu berkaitan dengan nama kelompok masyarakat yang membentuk kerajaan-kerajaan di masa lalu, baik pada masyarakat Sumba Timur maupun Sumba Barat.
Bahasa Sumba dialek Anakalang potensial dengan masalah afiksasi, atau yang sering kita katakan proses pengimbuhan. Proses pengimbuhan atau afiksasi menyangkut dengan bentuk, fungsi dan makna. Oleh karena bahasa Anakalang potensial dengan afiks maka penulis tertarik untuk meneliti afiksasi bahasa Sumba dialek Anakalang, yang mana penutur bahasa Sumba dialek Anakalang hanya mengetahui bahasa Sumba dialek Anakalang dan menggunakannya tetapi jarang mengetahui bahwa bahasa Sumba dialek Anakalang potensial dengan proses pengimbuhan. Penutur bahasa Sumba dialek Anakalang hanya tahu berbicara bahasa Sumba dialek Anakalang tanpa mengetahui bentuk dasar kata yang dibicarakan atau perluasan dari bentuk dasar itu apa. Penulis tertarik dengan masalah ini, dan penulis memilih judul Afiksasi Bahasa Sumba Dialek Anakalang, karena masalah afiksasi sangat potensial dalam bahasa Sumba dialek Anakalang.
Dalam bahasa Indonesia memiliki berbagai macam jenis afiks, demikian juga dalam bahasa Anakalang dialek Anakalang juga memiliki berbagai macam jenis afiks antara lain:
1. Prefiks yaitu afiks yang diletakkan di depan bentuk dasar, Prefiks bahasa Anakalang yaitu : Ka,- Da?,- Ma,- Na,-pa,-
Contoh :
pamati: ’membunuh’,dari kata dasar mati yang berarti ’mati’ atau ’meninggal’.
BSDA : Namabokul pamatineya na ana rara
Transliberasi :Orang tua(laki-laki) bunuh ana bayi
Terjemahan :Orang tua membunuh seorang bayi
2. Sufiks yaitu afiks yang diletakkan di belakang bentuk dasar, Sufiks bahasa Anakalang yaitu : -ng,-de?,-ha,-da’,-ya,-me.
Contoh ;
Panaung : ’nasihat’,dari kata dasar panau yang berarti ’memberikan nasihat’.

BSDA : Ranguya nalokamu bana panau, abi lebadiya napanaungna lokamu ta keri loku
Transliberasi: Dengarkan pamanmu ketika memberikan nasihat, jangan membuang nasihat pamanmu di kali yang keruh
Terjemahan : Dengarkan nasihat pamanmu, jangan biarkan nasihat pamanmu menjadi sia-sia.
3. Konfiks yaitu afiks yang terdiri dari dua unsur yaitu satu di depan bentuk dasar dan satunya lagi di belakang bentuk dasar, Konfiks bahasa Anakalang yaitu : Pa,-ng Pa,-ha Ma,-ha Ma,-ya Pa,-de?’
Contoh :
Painungha : ’minuman’, dari kata dasar inung yang berarti ’minum’.
BSDA : Jeka beyaha bami tauha da painung daku lali pemajaka atu, dapa pedangamiki lakeda
Transliberasi :Entah dimana kalian menaru minuman –minuman ,saya tidak terlalu tahu itu, saya tidak mengerti anak-anak.
Terjemahan : dimana kallian menyimpan minuman itu, saya tidak tahu dan saya tidak mengerti perilaku kalian anak-anak.
Jabaran data bahasa Sumba dialek Anakalang yang merupakan jenis afiks bahasa Sumba dialek Anakalang di atas memperlihatkan adanya bentuk , fungsi dan makna afiks bahasa Anakalang, sehingga memperkuat keinginan peneliti untuk mengangkat masalah afiksasi bahasa Sumba dialek Anakalang.

1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas maka masalah penelitian sebagai berikut:
a. Afiks-afiks apa sajakah yang terdapat dalam bahasa Sumba dialek Anakalang
b. Bagaimanakah fungsi afiks bahasa Sumba dialek Anakalang?
c. Bagaimanakah makna gramatikal afiks bahasa Sumba dialek Anakalang?

1.3 Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian ini adalah sebagai berikut:
a. Mendeskripsikan jenis-jenis afiks bahasa Sumba dialek Anakalang.
b. Mendeskripsikan fungsi afiks bahasa Sumba dialek Anakalang.
c. Mendeskripsikan makna gramatikal afiks bahasa Sumba dialek Anakalang.
1.4 Manfaat Penelitian
1.4.1 Manfaat Teoretis
Hasil penilitian ini diharapkan dapat bermanfaat bagi pengembangan ilmu linguistik khususnya linguistik mikro dan telaah morfologi.
1.4.2 Manfaat Praktis
a. Memperluas wawasan penulis tentang afiksasi, dan kajian morfologi.
b. Sebagai sumber informasi bagi masyarakat terlebih masyarakat penutur bahasa Sumba dialek Anakalang
c. Melestarikan bahasa Sumba dialek Anakalang sebagai aset kebudayaan.
d. Sebagai bahan referensi bagi para peneliti yang ingin meneliti lebih lanjut proses morfologis bahasa Sumba dialek Anakalang dan yang menaruh minat terhadap ilmu kebahasaan khususnya kajian morfologi dalam hal ini tentang afiksasi.
e. Dalam bidang pendidikan, khususnya pendidikan di daerah Sumba Tengah lebih tepatnya Anakalang ketika mempelajari imbuhan atau afiks bahasa Indonesia guru dapat memberitahukan kepada siswa bahwa terdapat juga afiks atau imbuhan bahasa Sumba dialek Anakalang sehingga proses pembelajaran bahasa Indonesia lebih menyenangkan karena siswa diajak mengenal apa yang dimilikinya yakni kekayaan bahasa daerahnya.
f. Diharapkan dalam pembelajaran siswa dapat menemukan bentuk, fungsi dan makna bahasa Indonesia dan menemukan bentuk , fungsi, dan makna bahasa Sumba dialek Anakalang untuk menguji daya analisis siswa dalam membandingkan bahasa Indonesia dan bahasa Daerah(bahasa Anakalang).
TORINE RAMBU BABA AMA.
NIM : 0601010066
PENGKAJIAN BAHASA DAERAH NTT.













BAB II
KAJIAN PUSTAKA, KONSEP DASAR DAN LANDASAN TEORI
2.1 Kajian Pustaka
Penelitian tentang bahasa Sumba dialek Anakalang masih sedikit dibicarakan. Di antaranya penelitian tentang Verba bahasa anakalang dibicarakan oleh Trovina Rambu P. Walangara, pada tahun 1999, di Anakalang dengan judul Verba Bahasa Anakalang, di mana masalah yang diangkat adalah kategori kelas kata dalam bahasa Anakalang yakni verba bahasa Anakalang atau dengan sebutan lain kata kerja bahasa Anakalang. Penelitian tersebut masih sangat sederhana karena hanya meneliti tentang verba bahasa Anakalang.
Bahasa Anakalang juga pernah diteliti oleh Rambu Badja Oru, di Anakalang dengan judul Analisis Kontruksi Frasa Nominal Bahasa Anakalang dalam cerita Rayat Anakalang Sebagai bahan Pertimbangan muatan Lokal di sekolah Lanjutan Tingkat Pertama. Penelitian ini berbicara tentang analisis kontrastif frasa nomina bahasa anakalang yang ada dalam karya sastra dibandingkan dengan bahasa Indonesia. Penelitian ini dilakukan pada tahun 1998
Penelitian bahasa Anakalang juga telah dikaji oleh Agung Putu Putra di Universitas UDAYANA Bali dengan judul Segmentasi Dialektal Bahasa Sumba di Pulau Sumba: Suatu Kajian Dialektologi merumuskan bahasa Anakalang serumpun dengan bahasa Waijewa, bahasa Loli, bahasa Kambera, bahasa wanokaka. Hasil temuan itu menunjukkan bahwa di Pulau Sumba terdapat satu bahasa dengan lima dialeknya, yakni (1) dialek Mauralewa-Kambera, (2) dialek Wano Tana/ Anakalang (Wanokaka dan Katiku Tana/ Anakalang ), (3) dialek Waijewa-Louli, (4) dialek Kodi dan (5) dialek Lamboya. Nama-nama dialek itu berkaitan dengan nama kelompok masyarakat yang membentuk kerajaan-kerajaan di masa lalu, baik pada masyarakat Sumba Timur maupun Sumba Barat.

2.2 Konsep Dasar
2.2.1 Afiksasi
Afiksasi adalah proses morfologis yang mengubah leksem menjadi kata kompleks. Menurut Verhar (2004: 107) ada empat macam afiksasi yaitu: a). Prefiks yang diimbuhkan di sebelah kiri dasar dalam proses yang disebut ‘prefiksasi’. b). Sufiks yang diimbuhkan di sebelah kanan dasar dalam proses yang disebut ‘ sufiksasi’. c). Infiks yang dimbuhkan dengan penyisipan di dalam dasar itu, dalam proses yang namanya ‘infiksasi. d). Konfiks, atau simulfiks, atau ambifiks, atau sirkumfiks yang diimbuhkan untuk sebagian di sebelah kiri dasar dan untuk sebagian di kanannya. Dalam proses yang dinamakan ‘konfiksasi’ atau ‘simulfiksasi’ atau ‘ambifiksasi’ atau sirkumfiksasi.
Proses morfologis dengan penggabungan kata mengacu terbentuknya kata kompleks yang dapat direalisasikan dalam tuturan. Yang menjadi bentuk terjadinya afiksasi yakni afiks yang merupakan bentuk terikat yang bila ditambahkan pada bentuk lain akan mengubah makna gramatikal (Kridalaksana 2002:2).
Imbuhan (afiks) adalah suatu bentuk linguistik yang di dalam suatu kata merupakan unsur langsung, yang bukan kata dan bukan pokok kata. Melainkan mengubah leksem menjadi kata kompleks, artinya mengubah leksem itu menjadi kata yang mempunyai arti lebih lengkap, seperti mempunyai subjek, predikat dan objek. Sedangkan prosesnya sendiri disebut afiksasi (affixation). Imbuhan (afiks) adalah bentuk (morfem) terikat yang dipakai untuk menurunkan kata. Syarat-syarat kata untuk dapat menjadi afiksasi, antara lain: Kata itu harus dapat ditempatkan pada bentuk-bentuk lain untuk membentuk kata atau pokok kata baru. Contoh: kata minuman, kata ini terdiri dari dua unsur langsung, yaitu kata minum yang disebut bentuk bebas dan –an yang disebut bentuk terikat. Makna ini disebut makna afiks. Contoh kata yang lain seperti: kata timbangan, pikiran, satuan.
Afiksasi adalah proses pembubuhan afiks pada sebuah kata dasar atau bentuk dasar. Afiks adalah sebuah bentuk, biasanya berupa morfem terikat yang diimbuhkan pada bentuk dasar dalam proses pembentukan kata.
Afiks dapat dibedakan menjadi: prefiks, infiks, sufiks, konfiks, interfiks dan transfiks. Unsur yang terdapat pada afiksasi adalah bentuk , fungsi dan makna gramatikal yang dihasilkan.
Afiks tidak memiliki arti leksis, artinya tidak mempunyai hubungan makna karena morfem itu berupa imbuhan. Sedangkan imbuhan itu dapat mempengaruhi arti kata itu sendiri. Contoh: bentuk –nya yang sudah tidak mempunyai pertalian arti dengan ia. Misalnya: rupanya, agaknya, termasuk golongan afiks, karena hubungannya dengan arti leksisnya sudah terputus. Imbuhan itu dapat mengubah makna, jenis dan fungsi sebuah kata dasar atau bentuk dasar menjadi kata lain, yang fungsinya berbeda dengan kata dasar atau bentuk dasar. Contoh: Kata belakang→ keterbelakangan → terbelakang. Pada kata ini terjadi perubahan bentuk ke-an.
Afiksasi merupakan salah satu proses morfologis yang paling sering ditemukan. Hal ini didukung dengan ditemukannya bentuk afiks dalam beberapa buku tata bahasa. Oleh karena itu, penulis akan membahas masalah ini berdasarkan konsep yang dikemukakan oleh Kridalaksana (2007), Keraf (1991) Ramlan (1985), Chaer (1998), dan Alwi, dkk. (2000). Menurut Kridalaksa, (2007:28) Afiksasi merupakan proses yang mengubah leksem menjadi kata kompleks. Keraf (1999 ) dalam WWW. Umbud Uin-Malang, berpendapat bahwa afiks adalah semacam morfem nondasar yang secara struktural dilekatkan pada kata dasar atau bentuk dasar untuk membentuk kata-kata baru. Ramlan (1985:47) berpendapat bahwa proses pembubuhan afiks ialah pembubuhan afiks pada suatu satuan, baik satuan itu berupa bentuk tunggal maupun bentuk kompleks, untuk membentuk kata. Chaer (1998) dalam WWW. Umbud Uin-Malang, afiks semacam bentuk yang dapat mengubah makna, jenis, dan fungsi sebuah kata dasar atau bentuk dasarnya. Alwi(2000: 31) berpendapat bahwa afiks ialah bentuk (atau morfem) terikat yang dipakai untuk menurunkan kata.
Menurut Putrayasa (2008:5) afiksasi adalah proses pembentukan kata dengan membubuhan afiks(imbuhan ) pada bentuk dasar, baik bentuk dasar tunggal maupun kompleks, misalnya pembubuhan afiks meN– pada bentuk dasar jual menjadi menjual, pertanggungjawabkan menjadi mempertanggungjawabkan. Berdasarkan bentuk di atas dapat dilihat bahwa pembubuhan afiks dapat terjadi pada bentuk tunggal maupun bentuk kompleks.
2.2.2 Afiks Infleksional
Menurut Verhar (2004:107 ) afiks infleksional yaitu afiks yang membentukan alternan-alternan dari bentuk yang merupakan kata, atau unsur leksikal yang sama. Samsuri (1980) dalam Putrayasa (2008: 113) berpendapat bahwa infleksional adalah kontruksi yang menduduki distribusi yang sama dengan dasarnya. Dapat juga dikatakan bahwa infleksional adalah proses morfologis karena afiksasi yang menyebabkan terbentuknya berbagai bentukan dengan ketentuan bahwa bentukan tersebut tetap dalam kelas kata yang sama. Pada umumnya , perubahan bentuk atau proses morfologis (infleksi) hanya menyatakan hubungan sintaksis dan tidak membawa pemindahan dari satu kelas kata ke kelas kata yang lain.
2.2.3 Afiks derivasional
Menurut Verhar (2004: 108) afiks derivasional adalah afiks yang menurunkan kata atau unsur leksikal yang lain dari kata atau unsur leksikal yang lain. Samsuri (1980) dalam Putrayasa (2008:103) berpendapat bahwa derivasional merupakan kontruksi yang berbeda distribusinya dari bentuk dasarnya. Pakar lainnya mengatakan bahwa derivasional adalah proses morfologis karena afiksasi yang menyebabkan terbentuknya beberapa bentukan dengan ketentuan bahwa bentukan tersebut berubah kelas katanya dari kata dasarnya (Suparman,1979; Clark, 1981) dalam Putrayasa (2008 : 103 ).








2.3 Landasan Teori
Teori yang digunakan dalam penelusuran masalah afiksasi ini adalah teori stuktural yang pertama kali dicanangkan oleh Ferdinand de Saussure.
Linguistik strukturalis berusaha mendeskripsikan suatu bahasa berdasarkan ciri atau sifat khas yang dimiliki bahasa itu. Pandangan ini adalah sebagai akibat dari konsep-konsep atau pandangan baru terhadap bahasa dan studi bahasa yang dikemukakan oleh bapak Linguistik Modern, yaitu Ferdinand De Saussure dalam buku Course de Linguistique Generale Course de Linguistique Generale yang disusun dan diterbitkan oleh Charles Bally dan Albert Sechehay tahun 1915 (dua tahun setelah de Saussure meninggal) Pandangan Ferdinand De Saussure bahwa bahasa adalah stuktur yakni stuktur fonologi,struktur morfologi, struktur sintaksis dan struktur semantik .
Dari keempat stuktur bahasa yang dikemukakan oleh Ferdinand de Saussure yakni struktur fonologi, morfologi , sintaksis dan semantik. Peneliti melihat aspek morfologi yaitu afiksasi sebagai suatu struktur yang perlu dikembangkan pada bahasa Sumba dialek Anakalang.







BAB III
METODE PENELITIAN
3.1 Desain Penelitian
Dalam penelitian ini metode yang digunakan adalah metode deskriptif kualitatif, yakni penelitian yang bertujuan untuk mendeskripsikan proses morfologis yang terjadi pada afiks bahasa Sumba dialek Anakalang dari segi bentuk, fungsi dan makna. Proses morfologis yang diteliti adalah afiksasi atau dengan sebutan lain mendeskripsikan proses pembentukan imbuhan, dalam hal ini yang menjadi kajian utama adalah bentuk, fungsi dan makna bahasa Sumba dialek Anakalang. Metode deskripitif bertujuan membuat deskripsi; maksudnya membuat gambaran, lukisan secara sistematis, faktual dan akurat mengenai data, sifat-sifat atau hubungan fenomena-fenomena yang diteliti (Djajasudarma, 1993: 8). Data yang dikumpulkan baik secara tertulis maupun secara lisan, dikumpulkan kemudian diteliti dengan tujuan untuk mempelajari fenomena-fenomena kebahasaan. Penelitian ini dilakukan melalui teknik catat dengan menggunakan langkah-langkah, yaitu: (1) studi pustaka, pada langkah ini penulis mencari dan mengumpulkan sumber pustaka; (2) pengumpulan data, pada langkah ini penulis mengumpulkan atas data tertulis mengenai afiks (3) pengklasifikasian data, pada langkah ini data yang telah disusun kemudian diklasifikasi sesuai dengan tujuan penelitian yaitu mencari bentuk, fungsi dan makna ; (4) penganalisisan data, pada langkah ini data yang telah diklasifikasi dan disusun secara sistematis kemudian dianalisis; (5) menyimpulkan hasil penelitian, pada langkah ini data yang telah diperoleh pada proses penganalisisan data kemudian disimpulkan.
3.2. Waktu dan Lokasi Penelitian.
3.2.1. Waktu penelitian
Penelitian ini dilaksanakan selama satu bulan , yaitu terhitung dari Desember 2009 sampai Januari 2010
3.2.2. Lokasi penelitian
Lokasi penelitian ini dilaksanakan di desa Anakalang desa Makata keri dan desa Kabela Wuntu kecamatan Katiku Tana kabupaten Sumba Tengah, Nusa Tenggara Timur.

3.3. Jenis Data dan Sumber Data
3.3.1 Jenis data
Data dalam penelitian ini berupa data lisan dan data tertulis . Data lisan berupa data bahasa yang digunakan masyarakat penutur, berupa cerita rakyat, bahasa adat, dan lagu-lagu daerah. Data tertulis berupa cerita rakyat yang dimuseumkan pada dinas kebudayaan, lagu-lagu Kidung Jemaat yang diterjemakan dalam bahasa Sumba dialek Anakalang.
3.3.2 Sumber data
Sumber data dalam penelitian ini berupa informan yaitu orang Sumba tepatnya masyarakat penutur bahasa Sumba dialek Anakalang, atau masyarakat di desa Anakalang.Penentuan informan ini harus menenuhi syarat
1. Berjumlah 5 (lima) orang yang tersebar pada tiga desa.
2. Berusia 25-75 tahun
3. Penutur asli bahasa Sumba dialek Anakalang yang jarang atau tidak pernah meninggalkan desa atau lingkungan penutur bahasa Sumba dialek anakalang Anakalang.
4. Berpendidikan minimal tamat pendidikan dasar .
5. Sedang berada di Anakalang dan lingkungan penutur bahasa Sumba dialek Anakalang.
6. Memiliki pengetahuan dan pamahaman tentang bahasa Anakalang.
7. Tidak memiliki kelainan ucapan.
8. Mampu membaca dan menulis serta dapat berbahasa Indonesia
9. Bersedia bekerja sama.
3.4. Instrumen Penelitian
Instrumen penelitian yang digunakan dalam penelitian ini antara lain, tape recorder, kodak atau kamera, daftar tanya dan kartu data . tape recorder digunakan untuk merekam data lisan . kamera dapat digunakan unyuk memotret hal-hal yang berhubungan dengan bahasa. Daftar tanya berupa pertanyaan yang berhubungan dengan kata kata bahasa indonesia yang kn diartikan ke dalam BSDA. Kartu data digunakan untuk mencatat data.
3.5. Teknik Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini dilakukan dengan beberapa cara yakni:
1. Observasi atau pengamatan langsung yang diarahkan pada pemakaian bahasa secara lisan. Dalam observasi ini juga dilakukan teknik merekam dcerita rakyat, bahasa adat dan ujaran dalam kehidupan sehari hari.
2. Wawancara yang dilakukan dengan informan di lapangan sekaligus dilakukan untuk mengecek data.
3. Intuisi, yakni peneliti membangkitkan sendiri data kebahasaan pada bahasa Sumba dialek Anakalang dengan mengandalkan intuisi kebahasaan mengingat peneliti sendiri adalah juga penutur asli bahasa yang diteliti.
3.6. Teknik Analisis Data
Setelah data terkumpul , selanjutnya dilakukan analisis untuk mendeskripsikan Afiksasi Bahasa Sumba dialek Anakalang.sekcara umum metode yang digunakan adalah metode distribusional , yaitu metode ananlisis yang alat penetunya merupakan bagian dari bahasa yang diteliti (Sudaryanto dalam Kusuma , 2007:54) dengan langkah-langkah:
1. Mendeskripsikan data berupa data lisan dan data tertulis.
2. Mengklasifikasikan kalimat-kalimat yang merupakan data afiksasi dan mengelompokan mengelompokkan berdasarkan bentuk , fungsi dan maknanya .

3.7. Teknik penyajian Hasil Analisis Data.
Penyajian hasil analisis data dalam penelitian ini dilakukan secara formal yaitu dengan menggunakan kaidah , dapat berupa rumus, diagram, tabel, dan gambar.
Demi kemudahan pemahaman , penyajian biasanya didahului atau diikuti oleh penyajian bersifat informal yaitu penyajian hasil analisis dengan menggunakan kata -kata biasa yakni kata- kata yang setelah dibaca dapat dipahami (Sudaryanto dalam Kusuma , 2007:71