Sabtu, 24 Juli 2010

MEMOTIFASI DIRI SENDIRI EXPOSE YOUR PERSONALITI PLUS

Energi yang terdalam dan dimiliki oleh setiap amanusia ketika ia melakukan sesuatu adalah motifasi . tanpa motifasi , manusia tidak akan pernah mempunyai kekuatan untuk bertindak . Seorang yang mengalami suatu keputusasaan , hanya akan bangkit kembali ketika ia menemukan motifasi dalam dirinya. Seorang yang tidak punya harapan sekalipun akan bersianar masa depannnya ketika ia menghadirkan MOTIVASI dalam dirinya . Pada hakikatnya, setiap orang yang diberi potensi , untuk menjadi motifator bagi dirinya sendiri. Tinggal bagaimana ia mampu memanfaatkan dan mengelolanya, sehingga menjadi energy yang sangat potensial.


Banyak orang yang mempunyai keinginan untuk mengetahui bagaiman cara memotifasi orang lain . Namun banyak orang yang lupa bahwa kunci sukses untuk memotifasi orang lain adalah terlebih dahulu memotifasi diri sendiri . Demikina juga kita adalah hal yang mustahil jika kita mau memotifasi orang lain sementara semangat dalam diri kita tidak ada. Dan kita ternyata tidak mempunyai semnagat hidup.
Tidak dapat dipungkiri, kita pasti pernah mengalami penurunan semangat dalam melakukan tindakan . Atau dengan kata lain kita pernah mengalami penurunan motifasi dalam diri kita. Hal itu juga akan dialami oleh orang disekitar kita. Hal yang membedakannnya hanyalah penyebab dan akibat dan penurunan motifasi itu.
Penurunan motivasi tersebut tentu saja akan berpengaruh terhadap kinerja kerja kita. Penurunan motifasi dapat saja mengakibatkan produktifitas kerja kita mengalami penurunan juga. Oleh karena itu, tidak ada jalan lain kecuali kita menumbuhkan kembali sengangat atau motifasi yanga da dalam diri kita.
Caranya
TETAPKAN TUJUAN HIDUP
Tetapkan tujuan hidup dengan jelas sebagai hasil dari tindakan semakin jelas kita menetapkan tindakan semakin yakin kita bahwa kita mempunyai energio yang menggerakkan diri menuju tujuan tersebut. Persoalannya sekarang seringkali kita melakukan tindakan reaktif artyinya kita bertindak dulu baru kemudian menetapkan rujuan. Hal inilah yang sering kalimembuat kita seolah olah kehilangan arah . kita merasa berjalan tanpa pemandu atau kompas yang jelas.. tidak menutup kemungkinan ketika kita mnegalami rintangan , langkah yang kita ambil mundur dan menyerah kalah.
Lain halnya ketika kita sudah menetapkan tujuan yang jelas sebelum bertyindak kita mempunyaititik pusat yang hendak dituju. Dalam diri kita sudah mempunyai bayangan bbahwa tindakan kita akan mencapai finis yang jelas meskipun kita tahu bahwa bnyak rintangan yang kita lewati.
Dengan menetapkan tujauan yang jelas, seakan –akan kita siap menembakkan busur panah menuju pusat lingkaran yang telahkita ketahui sebelumnya,b halinilah yang akan membuat kita mempunyai motifasi yang tinggi , sebelum bertindakkiat sudah yakin tindakan kita akan membuahkan hasil yang tidak akan sia-sia.

STRAEGI BELAJAR BEHAVIORISME

3.1 .Kesimpulan
Strategi pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia berdasarkan teori behaviorisme versi Skinner yaitu bagaimana peran guru dalam menstimulisi atau mengaktifkan siswa untuk menunjukkan perubahan perilaku . Dalam pembelajaran atau interaksi harus terjadi perubahan tingkah laku pada siswa sebagai hasil belajar dan mengajar . perubahan itu harus bersifat positif dn memamang harus dierencanakan secara sengaja dan sistematis.
Stategi pembelajaran bahasa dan sastra Indonesia yang dirancang guru berdarkan pendekatan behaviorisme harus pula merujuk pada kurikulum , yaitu seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan dan isi. Dalam hal ini kurikulum yang dirujuk adalah kurikulum KTSP(2006).
Behaviorisme adalah suatu pendekatan yang lebih memihak pada sosok atau kualitas manusia dari aspek kinerja atau perilaku yang dapat diamati atau upaya guru memahami perilaku secara total pada diri siswa. Inti pembelajaran terletak pada reinforcemet, atau yang disebut penguatan.
Wacana sastra dalam hubungannya dalam pengajaran sastra di SMA pada prinsipnya bertujuan untuk membina watak dan moral siswa serta dapat membantu mengubah perilakunya .
Dari kompetensi dasar mengeksprisikan dialog tokoh dalam pementasan drama ini guru merancang strategi yang pada akhirnya dapat mengubah perilaku siswa, guru harus aktif dan kreatif dalam merangsang siswa untuk berbuat sesuatu yang dapat mengubah perilakunya. Perubahan perilaku dari kompetensi ini yaitu siswa dapat mengekspresikan dialog drama dan mengenal serta mengungkapkan wacana sastra dalam pementasan drama.
Dari kompetensi dasar menggunakan gerak-gerik, mimic dan intonasi sesuai dengan watak tokoh dalam pementasan drama. Guru merancang strategi yang dapat mengubah perilaku siswa dengan stimulus dan juga memberikan reinforcement untuk meguatkan tingkah laku siswa. Perubahan tingkah laku dari kompetnsi dasar ini yaitu siswa dapat melakukan pementasan drama dengan penggunaan gerek-gerik, mimic dan intonasi yang tepat. Siswa mendapatkan keterampilan dari perilaku ini.
3.1.1 Kelebihan-kelebihan teori behaviorisme versi Skiner dalam pembelajaran.
Belajar terjadi dari adanya hubungan antara stimulius dan respon yang dapat mengakibatkan adnaya perubahan tingkah laku (behavior) baru , sebagai adanya interaksi atau hubungan antara stimulus dan respon . dalam aktifitas berupa pertanyaan , latihan –latihan , tugas-tugas dan test atau masalah lain yang perlu diselesaikan. Sedangkan respon merukan tingkah laku yang diamati sehingga perilaku siswa dapt diketahui, dan siswa juga dianggap telah belajaar jika telah menunjukkan perubahan perilaku.
Agar berhasil kaum behaviorisme(Skinner )berpendapat bahwa:
Stimulus respon berupa tingkah laku yang dapat diamati dengan stimulus yang berbentuk tingkah laku, dan respon, guru dapat merancang dan meramalkan hasil belajar (perubahan apa yang bakal terjadi ) pada subjek didik. Adanya reinforcemet positif dan reinforcement negatif dalam pembelajaran yang memungkinkan siswa dapat melakukan kegiatan dengan sempurna.
Guru sebagai motivator yang aktif , guru sebagai sumber informasi yang dapat mendorong siswa untuk aktif dan giat dalam belajar karena pembelajaran akan berhasil apabila adanya motivasibelajar siswa.
3.1.2 Kekurangan-kekurangan teori behaviorisme Versi Skinner dalam pembejaran.
Kekurangan teori behaviorisme dalam pembelajaran yaitu,
- Jika pembelajaran tidak diberi stimulus maka tidak akan ada respon atau perilaku yang dapat diamati pada diri siswa sebagai jawaban akan adnya stimulus. Pembelajaran akan statis.
- Jika pembelajaran tidak diberengi dengan penguatan maka perilaku siswa akan menurun dan perilaku akan dilemahkan.
- Dengan adanya stimulus dan respon membuat siswa , tidak kreatif dan selalu mengikuti perinta guru. Pengajarannya juga berakibat pada perkembangan anak yang tak dapat berpikir kritis untuk melalakukan tindakan yang sesuai dengan pengamatan siswa.

3.2 Saran
Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi kaum yang menamakan dirinya sebagai calon pencerdas bangsa, dan merupakan landasan yang tepat bagi pengembangan ilmu bahasa dan sastra Indonesia . Diharapkan kita sebagai calon guru dapat menghayati arti keberadaan kita, untuk mencerdaskan manusia Indonesia . untuk tidak mewartakan ilmu secara sembarang maka calon guru perlu mempersiapkan diri dengan belajar stratedi pembelajar yang tepat sesuai dengn kurikulum yang ada.
























KATA PENGANTAR
Puji dan syukur penulis haturkan kepada Tuhan Yang Maha Esa , yang oleh perkenanannya penulis masih diberi kesempatan menikmati kehidupan dan sedikit bernapas lega Karena dapat melewati akhir tahun dengan sempurna.
Penulis juga berterima kasih kepada bapak Dosen pengasuh mata kuliah yang selama ini membimbing penulis untuk belajar menjadi calon pendidik yang baik, yang mempersiapkan diri secara utuh dan bertanggung jawab penuh. Kiranya Tuhan selalu melindungi bapak dalam tugas, mendidik calon pendidik masa depan Indonesia. Penulisd juga berterima kasih karena bapak telah memberikan tugas bagaimana merangcaang strategi pembelajaran yang dengan merujuk pada kompetensi dasar dan menggunakan salah satu pendekatan. Penulis lebih tahu belajar bagaimana merancang stategi karena mengerjakan tugas.
Judul makalah ini adalah “ Strategi pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia menurut teori Behavirisme Versi Skinner dengan rujukan KTSP.”
Penulis ingin berterima kasih kepada teman –teman yang selama ini melewati hari –hari dengan kemesraan, terima kasih teman. Dalam kelemahanku ada teman yang menopang dan membuatku kuat lagi. Kita bangkit dari kerapuhan kita.
Akhirnya punulis menyadari makalah ini kurang sempurna , penulis harapkan kriti dan saran dari bapak dosen dan teman –teman sehingga makalah ini dapat berguna bagi Mahasiswa FKIP sebagai calon pendidik yang diharapkan untuk jadi yang terbaik.
Terima kasih, teriring salam dan doa tulus penulis. Syalom



Kupang, 19 Januari 2009


PENULIS


DAFTAR ISI

Kata Pengantar …………………………………………………………… ..i
Daftar Isi ………………………………………………………………… …ii
PENDAHULUAN …………………………………………………… ……..1
-Latar Belakang……………………………………………………… .….1
-Rumusan Masalah ………………………………………………….…… ...2
-Tujuan Penulisan ……………………………………………………. …....3
-Metode Penulisan ………………………………………………….…… ….3
-Landasan Teori ………………………………………………………… …4
-Manfaat Penulisan ……………………………………………………… …4
PEMBAHASAN…………………………………………………………… ..5
-Standar Kompetensi dan Kompetensi dasar pembelajaran
Bahasa dan Sastra Indonesia kurikulum SMA………………………… ..5
-pandangan belajar dan pembelajaran menurut behaviorisme
Versi Skinner ……………………………………………………………... .5
-Strategi pembelajaran Bahasa dan sastra Indonesia menurut
Behaviorisme versi Skinner dari kompetensi dasar dengan rujukan
KTSP……………………………………………………………………….........6
-kelebihan behaviorisme Versi Skinner dalam pembelajran……………. ..10
PENUTUP…………………………………………………………….… ….….12
-kesimpulan……………………………………………………………… ….. ..12
-Saran ……………………………………………………………….… ……...14
Daftar pustaka







STRATEGI PEMBELAJARAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA MENURUT TEORI BEHAVIORISME VERSI IVAN PAVLOV DENGAN RUJUKAN KTSP


TORINE RAMBU BABA AMA
0601010066
MATA KULIAH: STRATEGI PEMBELAJARAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BAHASA SASTRA INDONESIA DAN DAERAH
JURUSAN PENDIDIKAN BAHASA DAN SENI
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS NUSA CENDANA
KUPANG
2009

kamus bahasa waijewa-indonesia

KAMUS WAIJEWA – INDONESIA



TORINE RAMBU BABA AMA
0601010066
MATA KULIAH LEKSIKOGRAFI


PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BAHASA SASTRA INDONESIA DAN DAERAH
PENDIDIKAN BAHASA DAN SENI
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS NUSA CENDANA
KUPANG
2009

ga. ga n lombok :Nga’a – rara, Makan – merah;
ga.i v biar : Da -- kawi, Jangan --kan dia;
gal.li n burung gagak :Nati -- a lera, Itu -- yang terbang;
gar.ra n siapa : -- nati?, -- itu;
ga.sa n tarian waijewa :Ne’edi a nego--, Mereka sedang menari --;
ga.su num satu batang : Yada bubumu --, Tolong rokok –;
ga.ta v bantu : Ne’ene –nalakawa, Dia sedang menolong anak itu;
ge.di n dimana : -- hiti nitigu, ¬¬-- Itu uang saya?;
ge.ge n laba-laba : -- awoppa kaninika, --Menangkap nyamuk;
go.ba v lawan : garra pa --mi yemi, Siapa --kalian?;
go.gol v jatuh : nati ata na – wali dara deta, orang itu—dari kuda;
go.li v gelitik : Udin – karambo, Udin—kerbau;
go.na.ka adj. lurus : Nawasu na-- takka, Kayu itu betul-betul –;
gut.ti n gunting : Ne – yowa awoi we, -- ini saya yang beli;
ia num satu : -- bawi pakolegu yowa, Saya sudah dapat –;
i.ka v cungkil : -- uda na tara wa’i dana da, Tolong--duri di kaki saya;
i.lo v pilih : Nena a – kaniki, Dia sedang – kemiri;
in.da.ki tidak : -- hinage omu, Dia bilang – ;
i.na n mama : Ngarra kuwa ata wai –na, Semua orang punya --;
i.pa n ipar :Na –gu, Ini -- saya;
i.ra v robek :Magage kadana ma –kawe neti ingi,Hati-hati supaya kain itu jangan -- ;
i.ta adj. pedis : Yo’u da nga’a kana a --, Kamu jangan makan yang --;
i.to n kita : Neke nya uma da --, Itu rumah --;
i.u.wa num. sembilan : Hida a – neke yo’u, Kamu ambil --;
i.ya n ikan : Lakawa, a kako laowa --, Anak-anak pergi mencari --;
ka.bu bawah :Bondalai –kalambe ida riti, Uang itu simpan di – baju;
ka.di v jaga :Neiga – karambo, Saya – kerbau;
ka.du n tanduk : Hamalau bana –karambau, -- kerbau sudah panjang;
ka.ka adj. putih : -- bage logena inagu, rambut ibuku sudah --;
ka.ko v jalan : -- ulu oma dana, -- duluan ke kebun.;
ka.le v bujuk :--nawawi kana maupa, --babi itusupaya jinak;
ka.mo.ka v teriak : Naka sapi na—bana, sapi itu sudah --;
ka.pa n sayap : -- na nati manu amanua, -- ayam itu luka;
ka.ppe n kain alas : Toba puwe na --, cuci – ini;
ka.pu n tempat kapur: Taupu katawa na --, Isi kapur di – ini;
ka.re.ka n gubuk : Ina amagu engadi – duna, Ibu ayahku tinggal di --;
ka.re.ko adj. kurus : Wekina -- oro karedauku, badannya – karena sakit;
ka.ti v gigit : Waigu namann oro -- gu bongga, Kaki aku luka karena di—anjing;
ka.tto adj. keras : -- ge nebina wa tongue, pinti ini – ditarik;
ki.kku n ekor : -- na ti bongga manna, ekor anjin itu luka;
kuso adj. nakal : Natti lakawa – langutakka, anak itu sangat --;
ka.we.da adj. tua : Amagu na – bana, ayahku sudah --;
ke. Ba n pungul : kaladage – mu, -- mu besar;
ke.de v bangun : -- nagede bage, -- hari udah malam;
ke.du n curi : Ata na -- apou pabai dawa,-- sudah ditangkap polisi;
ke.re n pantat : Karoduka – gu oro waraka, -- ku sakit karena jatuh;
ke.ri v parut : -- puwe nenuu, -- kelapa ini;
ke. tte v ikat : -- di hida wasu ngindi umma, -- kayu ini, bawa e rumah;
ke.to n pisau : Netti--natama langu takka, -- tajam sekali;
ko. Ba n mangkuk : Taw wee na --, isi air – ini;
kob.bu n pinggang : kii kiduge – na, pinggangnya kecil;
ko.bo.la n kadal : magai nati --, hati-hati itu --;
ko.da v gali : kaagu neia—lua, kakakku sedang – ubi;
ko.ka n besok : koka lodo ia, -- hari senin;
ko.le v dapat :ku—bana pawili, aku sudah – kerja;
ko.ro n kamar : Nadua tuka – na, -- nya sangat bagus;

ko.se v ulik : kako – uhaida gagu, pergi – lombok itu;
kot.tu v jahit : --puge neka lambe ama ira, -- dulu baju ini yang robek;
la.ko n bahu : Tema wai --mu, Topang dengan –mu;
la.le n ujung : Na –tempe na maira, -- tikar itu sudah robek;
la.ra n jalan :ge lara palimu, kamu lewat jalan mana?;
le.de n pusat : Namanuawe –na, --nya luka;
le.ga v tumpah :Da—ka ne wee, jangan tumpakan air ini;
le.na v terapung : Enga dibe—nana hiti wasu, Kayu itu tetap --;
leng.ga v geser : -- kata mandii kaina, tolong – sedikit saya juga mau duduk;
le.ra v terbang :Kaila a—madeta, Burung yang -- tinggi ;
le.te n pematang :Nee wi a padua – paba, Dia sedang mempebaiki – sawah;
li.kke n alas : Raiwi -- ka tema, buat –nya supaya ditopang;
li.ma n tangan : karoduka—gu, -- saya sedang sakit.;
lin.de n terasering :Nega apadua linde, saya sedang memperbaiki –;
li.ra v gendong : Ne’e wi a--alikana, dia sedang – adiknya;
lis.sa n halia : Ata a todaka --, orang-orang menanam --;
lu.a n ubi :Yamme ma nga’a lua, kami makan --;
lum.mu v rampas :Ne nyawe tana pa --, Tanah ini yan di-- (perebutkan);
lun.da v bonkar : Da -- kage, Jangan—lagi itu;
lun.na n bantal : Ya kaida – iya, Beri juga saya – satu;
lut.te n tembolok :Na manu na bonu bage--, -- ayam ini udah penuh;
lo.di v potong : Ne’e a--wasu, Saya sedang – kayu;
lo.ge n rambut :Nati mine namalone –na, Nona itu ber—panjang;
lo.go v rebus : Yamme nema a logo watara, kami sedan me—jagung;
lo.ka n paman : --gu yowa a tauda, --ku ada tujuh orang;
lo.ko. n kali : -- kalada bara uma, -- besar dekat rumah;
lo.la v ingat : --we netti patekigu, -- yang sudah saya katakan;
lo.ma n lidah :Magege na loma api, Awas dengan – api itu;
lo.re v pancing : Maida kata – iya, mari kita pancing ikan;
lo.ni n lumbung padi : Na pase ne’e bai -- dana, padi udah diimpan di--;
lo.ppu n potong :-- padai na wasu, Tolong potong kayu ini;
lo.su n cacing perut :Na lakawawaidi --na, Anak ini cacingan (--) ;
lo.ti n cacing tanah :Na madauta na loti, Dia takut--;

Minggu, 18 Juli 2010




ini dia cerita ku...




kau mati sayang
STRUKTUR KALIMAT TANYA BAHASA SUMBA DIALEK ANAKALANG











TORINE RAMBU BABA AMA
0601010066
TUGAS MID SEMESTER
PENGKAJIAN BAHASA DAERAH NTT



PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BAHASA SASTRA INDONESIA DAN DAERAH
JURUSAN PENDIDIKAN BAHASA DAN SENI
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS NUSA CENDANA
KUPANG
2010




BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Pengembangan dan pembinaan bahasa Indonesia dan bahasa daerah secara terus menerus dikembangkan. Dosen dan mahasiswa juga terus melakukan penelitian terhadap bahasa yang belum dijamah. Pengembangan itu bertujuan untuk menjaga kelestarian bahasa daerah.
Bahasa Sumba dialek Anakalang adalah salah satuh bahasa daerah yang berkembang di Indonesia. Stukturnya sangat unik karena mempunyai ciri khas sendiri. Misalkan dari sintaksis, bahasa sumba dialek anakalang unik karena posisi predikat berada di depan subjek tidak saja pada kalimat imperative tapi pada dua kategori kalimat yakni kalimat berita dan kalimat Tanya.
Kata Tanya bahasa sumba dialek Anakalang lengkap, ada kata apa, siapa, bagaimana, mengapa, kapan, dan dimana.
Apa dalam bahasa sumba dialek anakalang apa -gana, siapa – gereya, bagaimana- gahamanaima, mengapa- garkina, kapan- pirangu, dimana- beya.
Kata Tanya ini ada dalam bahasa Sumbadialek Anakalang. Tetapi ketika berdistrinbusi dalam kalimat Tanya kata Tanya apakah tidak ada dalam kalimat , kata Tanya ganaya hanya dalam kalimat micro. Misalnya ganaya? Apa itu?
Kata Tanya siapa , bagaimana, mengapa, kapan, dimana , dalam kalimat Tanya bahasa Sumba dialek anakalang sangat tampak tetapi kata Tanya dengan maksud apakah tidak tampak.
Dan didahului oleh predikat yang berkategori verba dalam kalimat itu. Contohnya
Halakune ta hakola na inamu yang mau menyatakan apakah ibumu sudah berangkat kesekolah di dahului kata halaku yakni berangkat merupakan predikat berkategori verba. Tidak ada kata gana sedangkan untuk menyatakan apakah yang dipikirkan kata gana berada pada posisi akhir misalkan papangadamu ganaya.



1.2 Masalah
a. Reset problem
Kalimat Tanya bahasa Sumba dialek Anakalang dengan kata Tanya apakah didahului oleh predikat dan berkategori verba.

b. Reset question

-Bagaimana Fungsi Sintaksis Kalimat Tanya Bahasa Sumba Dialek Anakalang?
-Bagaimana Peran Sintaksis Kalimat Tanya Bahasa Sumba Dialek Anakalang?
-Bagaimana Kategori Sintaksis Kalimat Tanya Bahasa Sumba Dialek Anakalang?
-Bagaimana Pengaruh Posisi Fungsi Sintaksis Kalimat Tanya bahasa Sumba Dialek Anakalang Terhadap Pembelajaran Bahasa Indonesia?











BAB II
KONSEP DAN TEORI
2.1 Konsep
2.1.1 Fungsi Sintaksis
Verhaar (1999) fungsi-fungsi sintaksis itu yang terdiri dari unsur-unsur SPOK itu merupakan ”kotak-kotak kosong” atau ”tempat-tempat kosong” yang tidak mempunyai arti apa-apa karena kekosongannya. Tempat-tempat kosong itu akan diisi oleh sesuatu yang berupa kategori dan memiliki peranan tertentu.
Fungsi ‘induk ’dalam kalimat itu adalah memang predikat . predikat biasanya berupa verbal . Fungsi sintaksis adalah konstituen yang formal . fungsi sintaksis bahasa Sumba dialek Anakalang berbeda dengan aturan fungsi sintaksis bahasa Indonesia.

2.1.2 . Peran Sintaksis
peran dalam sintaksis secara umum dapat kita bagi menjadi pelaku , penindak, pengalam (sebagai pasien).
Verhar(1999) mengatakan peran adalah seuatu hal yang dialami oleh fungsi berdasarkan kelas kata.
Verhar juga mengatakan tidak banyak penelitian yang mengatakan bahwa struktur peran terdapat dalam semua bahasa. Karena dalam semua bahasa perlulah dasar untuk mengungkapkan adanya orang atau benda yang menjadi “pelaku’ ‘ pasien’
2.1.3. Kategori Sintaksis
Kategori sintaksis adalah apa yan disebut kelas kata seperti nomina, verba, adjektiva, adverbia, adposisi(preposisi dan posposisi) ada banyak perbedaan bahasa di dunia dalam jenis dan jumlah kelas kata. Kategori kelas kat di tentukan oleh konstituen konstituen klausa (Verhar 1999: 170)
Menurut Abdul Chaer(2003) rata rata penulis tata bahasa internasionalan mengatakan bahwa fungsi subjek dalam kalimat selalu ditempati oleh kata yang berkategori nomina dan fungsi predikat selalu di tempati oleh kata yang berkategori verba.
2.1.4 kalimat Tanya

Kalimat tanya.. adalah kalimat yang di gunakan untuk bertanya tentang sesuatu yg ingin ditanyakan, atau yg ingin dicari informasinya. Kalimat tanya..akan lebih tepat bila menggunakan kata Apa, Mengapa, Siapa, Kapan, Bagaimana, dan Berapa dan diakhiri dengan tanda baca (?)
Bila kita membandingkan kalimat tanya dengan kalimat berita maka terdapat beberapa ciri yang dengan tegas membedakannya dengan kalimat berita.
a. Intonasi yang digunakan adalah intonasi tanya.
b. Sering mempergunakan kata tanya.
c. Dapat pula mempergunakan partikel tanya –kah.
Pada umumnya semua kalimat tanya mengehendaki suatu jawaban atas isi pertanyaan tersebut. Tetapi ada pula pertanyaan yang sama sekali tidak menghendaki jawaban, dan dipakai sebagai suatu cara dalam gaya bahasa; pertanyaan semacam ini disebut petanyaan retoris. Pertanyaan retoris biasa dipakai dalam pidato-pidato atau percakapan-percakapan lain di mana pendengar sudah mengetahui atau dianggap sudah mengetahui jawabannya. Ada pula semacam pertanyaan lain yang sebenarnya sama nilainya dengan perintah, di mana si penanya sudah mengetahui jawabannya.
Jadi dapat disimpulkan bahwa sekurang-kurangnya ada 3 macam kalimat tanya: Pertanyaan biasa, Petanyaan retoris, Pertanyaan yang senilai dengan perintah.
2.2 Teori
Terdapat sejumlah pendekatan teoritis mengenai aturan sintaksis. Banyak ahli bahasa (seperti Noam Chomsky) melihat sintaksis sebagai cabang biologi, sejak mereka menganggap sintaksis sebagai pembelajaran ilmu bahasa yang melekat di pikiran manusia. Lainnya (seperti Gerald Gazdar) mengambil pandangan yang lebih Platonistik, sejak mereka menyebut sintaksis sebagai pembelajaran sistem formal abstrak. Meskipun ada lagi (seperti Joseph Greenberg) menganggap tata bahasa sebagai alat taksonomis untuk mencapai generalisasi luas di banyak bahasa. Sejumlah pendekatan besar terhadap aturan ini disebutkan.
Arti tata bahasa generatif adalah bahwa bahasa adalah struktur pikiran manusia. Tujuan tata bahasa generatif adalah membentuk model lengkap bahasa terdalam ini (dikenal sebagai i-language). Model ini dapat digunakan untuk menjelaskan semua bahasa manusia dan memperkirakan ketatabahasaan dari ungkapan apapun (yang berarti memperkirakan apakah ungkapan ini terdengar benar oleh para penutur asli suatu bahasa). Pendekatan terhadap bahasa dirintis oleh Noam Chomsky. Kebanyakan teori generatif (meskipun tidak semuanya) menganggap bahwa sintaksis didasarkan pada struktur kalimat yang konstituen. Tata bahasa generatig berada diantara teori yang berfokus terutama pada bentuk kalimat, daripada fungsi komunikatifnya.










BAB III
METODE PENELITIAN
3.1 Desain Penelitian

Dalam penelitian ini metode yang digunakan adalah metode deskriptif kualitatif, yakni penelitian yang bertujuan untuk mendeskripsikan struktur sintaksis yang terjadi pada kalimat tanya bahasa sumba dialek anakalang dari fungsi , peran dan kategori sintaksis. struktur sintaksis yang diteliti adalah kalimat tanya dengan melihat struktus atau posisi fungsi kalimat bahasa Sumba dialek Anakalang. Metode deskripitif bertujuan membuat deskripsi; maksudnya membuat gambaran, lukisan secara sistematis, faktual dan akurat mengenai data, sifat-sifat atau hubungan fenomena-fenomena yang diteliti (Djajasudarma, 1993: 8). Data yang dikumpulkan baik secara tertulis maupun secara lisan, dikumpulkan kemudian diteliti dengan tujuan untuk mempelajari fenomena-fenomena kebahasaan. Penelitian ini dilakukan melalui teknik catat dengan menggunakan langkah-langkah, yaitu: (1) studi pustaka, pada langkah ini penulis mencari dan mengumpulkan sumber pustaka; (2) pengumpulan data, pada langkah ini penulis mengumpulkan atas data tertulis mengenai kalimat tanya (3) pengklasifikasian data, pada langkah ini data yang telah disusun kemudian diklasifikasi sesuai dengan tujuan penelitian yaitu mencari fungsi , peran dan kategori ; (4) penganalisisan data, pada langkah ini data yang telah diklasifikasi dan disusun secara sistematis kemudian dianalisis; (5) menyimpulkan hasil penelitian, pada langkah ini data yang telah diperoleh pada proses penganalisisan data kemudian disimpulkan.







DAFTAR PUSTAKA
Chair, Abdul.2003. Seputar Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia. Jakarta: Reneka Cipta.
Keraf, G. 2005. Komposisi. Ende . Nusa Indah
Kridaklasana, H. 2004. Pembentukan Kata Dalam Bahasa Indonesia. Jakarta: Gramedia
Putrayasa. 2006. Tata Kalimat Bahasa Indonesia.Jakarta: Aditama
----------.2008. Kajian morfologi . Jakarta: Aditama
Verhar. 1999. Asas –Asas Linguistik Umum. Jokjakarta: Gadja Mada University press.
Sausure. 1993. Pengantar Linguistik Umum.Jokjakarta: Gadja Mada Universiti Press.